Jakarta -Tenarnews-serikat Media siber Indonesia,-Perjalanan hidup Hasani Ahmad Said bukan sekadar kisah akademik, melainkan potret keteguhan hati yang ditempa oleh keterbatasan dan doa orang tua. Lahir sebagai anak ke-11 dari 12 bersaudara, Hasani tumbuh dalam lingkungan sederhana. Ia adalah putra dari H. Ahmad Samsuri dan Ibu Sunariyah, yang membesarkannya dengan penuh pengorbanan serta harapan besar di tengah keterbatasan ekonomi.
Sejak kecil, Hasani telah terbiasa hidup dalam kesederhanaan. Untuk makan saja, ia harus berbagi dengan banyak saudara. Namun, keterbatasan itu tidak memadamkan semangatnya untuk menuntut ilmu. Justru dari situlah tumbuh daya juang yang luar biasa. Doa orang tua menjadi kekuatan utama dalam setiap langkah hidupnya.
Ketika Hasani memutuskan berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah, suasana haru tak terelakkan. Ia menangis, begitu pula kedua orang tuanya. Bukan karena meragukan kemampuan sang anak, melainkan karena memikirkan biaya yang harus ditanggung. Dalam keheningan penuh harap, orang tuanya menyampaikan pesan yang begitu dalam maknanya:
“Jangankan sawah, bahkan hal paling berharga sekalipun akan kami relakan, selama itu untuk pendidikanmu.”
Pesan itu menjadi api yang terus menyala dalam diri Hasani—menguatkan setiap langkahnya dalam menempuh jalan panjang pendidikan.
Pada semester awal kuliah, Hasani hanya mampu membayar SPP dengan bekal sekitar Rp300.000 yang berasal dari penjualan hasil kebun berupa kacang tanah. Jumlah yang sederhana itu bukan sekadar angka, melainkan simbol perjuangan dan pengorbanan keluarga. Bahkan, untuk bertahan hidup di Jakarta, kondisi tersebut terasa sangat terbatas. Namun, Hasani menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keteguhan.
Titik balik mulai terlihat saat memasuki semester ketiga, ketika ia mengikuti seleksi muazin di Masjid Fathullah—yang saat itu masih berada di lingkungan IAIN Jakarta. Dari sekitar 30 pendaftar, Hasani berhasil meraih peringkat pertama. Sebuah pencapaian yang bukan hanya membanggakan, tetapi juga membuka jalan pengabdian sekaligus keberkahan dalam hidupnya.
Masjid Fathullah kala itu berada di bawah kepemimpinan Dr. KH. Fathurrahman Rauf, M.A. sebagai Ketua Buperda (Badan Urusan Peribadatan). Pada masa tersebut, beliau juga dikenal sebagai akademisi yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Jakarta. Sosok inilah yang kemudian menjadi figur penting dalam perjalanan hidup Hasani—bukan hanya sebagai pembina, tetapi juga kelak sebagai mertua.
Di masjid tersebut, Hasani belajar langsung dari para senior muazin yang juga tokoh besar, seperti Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor UIN Jakarta, serta Buya Prof. Dr. H. Saifuddin Herlambang, yang pernah menjadi imam masjid, dan juga akademisi terkemuka yang pernah menjabat sebagai Wakil Rektor II IAIN Pontianak, serta kini mengemban amanah sebagai guru besar.
Kala itu, UIN Jakarta masih berstatus IAIN, dan Masjid Fathullah menjadi pusat aktivitas keilmuan yang hidup. Hasani tidak hanya mengumandangkan azan, tetapi juga aktif dalam kegiatan ilmiah. Ia pernah dipercaya menjadi moderator dalam kajian kitab Riyadhusshalihin yang diisi oleh Dr. Nasaruddin Umar, yang pada masa itu menjabat sebagai Wakil Rektor III IAIN Jakarta. Tidak berhenti di sana, Hasani juga pernah menjadi guru mengaji bagi anak beliau, sekaligus kerap mendampingi dalam berbagai kesempatan. Relasi itu terjalin sekitar dua dekade silam—sebuah fase penting yang turut membentuk kedewasaan intelektual dan spiritual Hasani Ahmad Said.
Kisah hidup Hasani semakin berwarna ketika ia dipertemukan dengan dr. Laeli Puspita Sari, putri terakhir dari Prof. Dr. KH. Fathurrahman Rauf, Dekan Fakultas Adab dan Humaniora saat rektornya Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, juga dua periode Ketua LAZISNU PBNU saat ketua umumnya DR. KH. Hasyim Muzadi. Saat itu, Laeli adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran, sementara Hasani menempuh studi Pascasarjana. Karena keterbatasan fasilitas, Fakultas Kedokteran masih menumpang di gedung yang sama. Dari kebersamaan ruang dan waktu itulah, benih-benih cinta tumbuh perlahan.
Takdir mempertemukan mereka dalam momen yang istimewa: wisuda bersama. Hasani bahkan dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Dalam suasana penuh kebahagiaan, rektor saat itu sempat melontarkan candaan yang mengundang tawa hadirin:
“Mahasiswa doktor terbaik ini layak menjadi mahar untuk meminang dr. Laeli Puspita Sari.”
Selepas wisuda, Hasani melanjutkan perjalanan akademiknya dengan mengikuti program postdoctoral di Mesir selama tiga bulan pada tahun 2011. Pengalaman internasional tersebut semakin mengukuhkan kapasitas keilmuannya. Sepulang dari sana, ia menikahi dr. Laeli Puspita Sari, memulai babak baru kehidupan yang penuh berkah.
Dari pernikahan tersebut, Hasani Ahmad Said dan dr. Laeli Puspita Sari dikaruniai dua orang buah hati yang menjadi sumber kebahagiaan sekaligus penyemangat dalam setiap langkah pengabdian mereka.
Dari seorang marbot dan muazin, Hasani Ahmad Said menapaki jalan panjang hingga menjadi guru besar. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah penghalang, melainkan pijakan awal menuju pencapaian besar—selama disertai doa, kerja keras, dan keteguhan hati.( Red )


