Ketika Doa Menjadi Jalan: Kisah Hasani Ahmad Said dari Kampung ke Guru Besar

- Jurnalis

Rabu, 15 Juli 2026 - 14:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

*

Jakarta,-Tenarnews-serikat Media siber Indonesia,-Di sebuah sudut sederhana di Banten, perjalanan hidup seorang anak kampung bernama Hasani Ahmad Said dimulai. Ia bukan lahir dari keluarga berada, bukan pula dari lingkungan akademik ternama. Hasani adalah anak ke-11 dari 12 bersaudara, putra dari H. Ahmad Samsuri dan Ibu Sunariyah. Hidup dalam keterbatasan membuatnya sejak kecil terbiasa berbagi, bahkan untuk makan pun harus bergantian dengan saudara-saudaranya. Namun, dari tanah sederhana itulah tumbuh sebuah mimpi besar, mimpi yang dirawat dengan kesabaran, disiram dengan kerja keras, dan dipanjatkan melalui doa-doa yang tak pernah putus.

Sejak kecil, Hasani telah menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap ilmu agama. Lingkungan pesantren dan madrasah menjadi ruang awal pembentukan jiwanya. Ia menapaki pendidikan dari Madrasah Ibtidaiyah al-Khairiyah Karang Tengah (1990–1995), lalu melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri Pecinan Cilegon (lulus 1995). Masa remajanya ditempa di Pondok Pesantren Nurul Qomar (Banu al-Qomar) al-Khairiyah Karangtengah pada 1996–2000, kemudian Madrasah Tsanawiyah al-Khairiyah (lulus 1998) dan Madrasah Aliyah al-Khairiyah (lulus 2001). Dari sana, ia melangkah ke UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengambil jurusan Tafsir Hadis di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat dan lulus pada 2005. Ia juga mengikuti Pendidikan Kader Ulama (PKU) MUI DKI Jakarta (2005–2007), lalu melanjutkan S2 Tafsir Hadis (lulus 2007), S2 kedua di bidang Bahasa dan Sastra Arab (2013–2015), serta meraih gelar doktor (S3) Islamic Studies pada 2011 sebagai lulusan terbaik. Semua ini bukan sekadar pencapaian akademik, melainkan perjalanan panjang yang ditempuh dengan kesungguhan dan doa.

Mimpi-mimpinya perlahan tumbuh dari kesederhanaan itu. Saat Hasani hendak berangkat ke Jakarta untuk kuliah, tangis pecah di rumah kecil itu. Ia menangis, orang tuanya pun menangis—memikirkan dari mana biaya akan didapatkan. Namun dalam suasana haru itu, sang ayah menguatkan dengan kalimat sederhana dalam bahasa Jawa Banten: “Ajeu maning sawah San, idep geuh ning laku mah mameu edol gena sekolah meuh. (Jangankan sawah San, bulu mata juga kalau laku bisa dijual, Mameu (ayah) akan jual kalau untuk sekolah, terj.).

Baca Juga :  PERKUAT PENGAMANAN DATA DIGITAL, TANGSEL RESMIKAN CSIRT

Kalimat itu bukan sekadar penghibur, melainkan menjadi api yang terus menyala dalam perjalanan hidupnya.

Sejak kecil pula, Hasani menyimpan satu doa besar yang terus ia ulang dalam diam: ingin kuliah ke Timur Tengah. Doa itu menjadi bagian dari hidupnya—dipanjatkan berulang kali, disertai harapan besar akan masa depan. Namun, waktu berjalan, dan doa itu seolah belum menemukan jawabannya. Ia tidak berangkat ke Timur Tengah seperti yang ia impikan.

Di titik inilah Hasani memahami makna terdalam dari doa: doa bukan sekadar permintaan, tetapi kekuatan yang membimbing arah hidup.

Jawaban atas doa itu mulai terbuka pada tahun 2009 ketika ia mengikuti Pendidikan Kader Mufassir (PKM) di Pusat Studi al-Qur’an. Di sana, ia menemukan kedalaman ilmu yang selama ini ia cari. Ia mulai memahami bahwa jalan ilmu tidak selalu lurus seperti rencana manusia, tetapi selalu tepat sesuai ketetapan-Nya.

Dan pada akhirnya, doa itu benar-benar dijawab—bukan dengan cara yang ia bayangkan, melainkan dengan cara yang jauh lebih indah. Setelah menyelesaikan studi doktoralnya, Hasani mendapatkan hadiah istimewa dari guru yang menjadi panutan dan role model-nya, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A.: kesempatan mengikuti program postdoctoral di Mesir selama tiga bulan pada tahun 2011.

Di sanalah ia menyadari sepenuhnya—doanya tidak pernah ditolak. Hanya ditunda, disiapkan, dan kemudian diwujudkan pada waktu terbaik.

Di balik perjalanan panjang itu, ada kekuatan spiritual yang ia jaga dengan istiqamah: membaca sholawat 1000 kali setiap malam dan setiap pagi selepas sholat Subuh. Dalam kesunyian, sholawat itu menjadi penopang jiwa—menguatkan langkah ketika lelah, menenangkan hati ketika gundah, dan membuka jalan ketika terasa buntu.

Baca Juga :  K3S Sawangan Sambut hari Guru Nasional HUT PGRI ke 80 di Alun Alun barat, Sawangan

Namun, Hasani tidak berjalan sendiri.

Di sampingnya, ada sosok yang tak pernah berhenti mendoakan: sang istri, Ibu dr. Laeli Puspita Sari. Dalam setiap sujudnya, doa itu mengalir tanpa henti. Bersama kedua putri mereka—Nakhwa Haurajamila Elhasani (santri Bina Insan Mulia 2, Cirebon) dan Nahla Hania Elhasani (kelas 6 MI MP UIN)—keluarga ini menjadi sumber kekuatan yang tak terlihat namun sangat nyata.

Doa istri dan anak-anak menjadi bagian dari perjalanan ini. Menjadi energi yang menjaga, menguatkan, dan mengantarkan Hasani hingga ke titik tertinggi dalam karier akademiknya.

Kesungguhan Hasani dalam menuntut ilmu membawanya menembus batas-batas geografis. Ia hadir dalam berbagai forum internasional, dari Amerika Serikat, Uzbekistan, hingga Eropa dan Timur Tengah. Namun, perjalanan itu sejatinya telah dimulai jauh sebelumnya—dari lantai masjid, dari pengabdiannya sebagai marbot dan imam di Masjid Fathullah UIN Jakarta.

Dari tempat sederhana itulah, ia menapaki jalan menuju mimbar akademik tertinggi.

Meski telah mencapai banyak hal, Hasani tetap menjadi sosok yang sederhana. Ia tidak melupakan kampung halamannya—tempat di mana mimpi itu lahir, doa itu dipanjatkan, dan air mata pertama perjuangan jatuh.

Kisah Hasani Ahmad Said adalah kisah tentang doa yang menjadi kekuatan. Tentang mimpi yang mungkin tertunda, tetapi tidak pernah hilang. Tentang keyakinan bahwa setiap doa akan menemukan jalannya.

Dari kampung sederhana hingga menjadi guru besar—ia membuktikan bahwa ketika doa menjadi jalan, maka tidak ada yang mustahil untuk dicapai.( Red )

Berita Terkait

Anak Bangsa,” Putra Putri GWA Meriahkan HUT RI ke 81
Meriahkan HUT RI, Pesta Rakyat Digelar di Monas dari Siang hingga Malam Hari
Dari Kemerdekaan menuju Kemakmuran Rakyat
Agus Barkah, S.Kom. M.M. Lahir di Hari Kemerdekaan, Kini Mengabdi Mencerdaskan Anak Bangsa
Tim Penyuluh Kanwil Kementerian Hukum DK Jakarta Laksanakan Monitoring dan Pembinaan Posbankum di Kelurahan Ragunan Jakarta Selatan
Merdeka ! Perjalanan 81 Tahun Menjadi Diri Sendiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia 
Pelantikan Pengurus PCNU Kota Tangerang Selatan Masa Hidmat 2026-2031 di Tandai MOU Dengan Mitra Strategis PT Wahana Anugerah Energi
_Reflective Thinking_ *Hukum Tata Negara Paradoks Ambigu
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 18 Agustus 2026 - 19:27 WIB

Anak Bangsa,” Putra Putri GWA Meriahkan HUT RI ke 81

Selasa, 18 Agustus 2026 - 14:25 WIB

Meriahkan HUT RI, Pesta Rakyat Digelar di Monas dari Siang hingga Malam Hari

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 20:44 WIB

Dari Kemerdekaan menuju Kemakmuran Rakyat

Jumat, 14 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Agus Barkah, S.Kom. M.M. Lahir di Hari Kemerdekaan, Kini Mengabdi Mencerdaskan Anak Bangsa

Rabu, 12 Agustus 2026 - 08:44 WIB

Tim Penyuluh Kanwil Kementerian Hukum DK Jakarta Laksanakan Monitoring dan Pembinaan Posbankum di Kelurahan Ragunan Jakarta Selatan

Berita Terbaru

Tenar News

Anak Bangsa,” Putra Putri GWA Meriahkan HUT RI ke 81

Selasa, 18 Agu 2026 - 19:27 WIB

Tenar News

Dari Kemerdekaan menuju Kemakmuran Rakyat

Sabtu, 15 Agu 2026 - 20:44 WIB