PUNCAK HAJI WUKUF DI ARAFAH : MENEGUHKAN KEBERSAMAAN UMAT ISLAM

- Jurnalis

Sabtu, 24 Juni 2023 - 03:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puncak penyelenggaraan haji adalah wukuf di Arafah.

الحجُّ عرفةُ , فمن اَدْرَكَ لَيْلَةَ عرفةَ قبلَ طُلُوْعِ الفَجْرِ من ليلةِ جُمَعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّـهُ.

Haji itu adalah Wukuf Di ‘Arafah, maka barangsiapa yang mengetahui (wukuf di ‘Arafah) pada malam ‘Arafah, hingga menjelang terbitnya Fajar dari malam berkumpulnya para jama’ah, maka sungguh hajinya telah sempurna.

Bagi umat Islam yang tidak menunaikan haji, Sunnah Muakkadah melakukan puasa Arafah 9 Dzulhijjah, atau biasa disebut sebagai Hari Arafah.

Salah satu hikmahnya adalah agar umat Islam kembali mengenal dirinya, sadar akan dirinya bersama jamaah haji yang sedang wukuf di Arafah.

Bagi umat Islam yang tidak wukuf di Arafah, sunnah muakkad puasa Arafah pada waktu arafah. Tujuannya untuk meningkatkan keimanan kepada Allah dan kecintaan kepada Sunnah Rasul di seluruh di dunia.

Terdapat dua dalil yang kuat (râjih); yakni pertama, puasa Arafah ketika wukuf di Arafah. Menurut Imam Badruddin Al ‘Aini: “Hari Arafah” (yauma ‘Arafah) menunjukkan dua hal; pertama, waktu (al-zaman); kedua, tempat (al-makan).Dari segi waktu, hari Arafah 9 Dzulhijjah 1444 H bertepatan 27 Juni 2023 M.Sedang kan dari segi tempat, hari Arafah adalah hari di mana para jamaah haji berwukuf di tempat yang dikenal dengan Padang Arafah. Jadi, hari Arafah memiliki dua konsekuensi logis; pertama, ‘Arafah 9 Dzulhijjah; kedua, jamaah haji berwukuf di Padang ‘Arafah. (Badruddin Al-‘Ainî, ‘Umdatul Qâri Syarah Shahîh Al-Bukhârî, syarah hadits no. 603, 5/339; Ibnu Qudamah,Al-Mughni, 5/44).

Kedua, definisi syar’i “Hari Arafah” (yauma ‘Arafah) adalah :

يَوْمَ عَرَفَةَ هُوَ اْليَوْمُ الَّذِيْ يَقِفُ فِيْهِ الْحَجِيْجُ بِعَرَفَةَ

“Hari ‘Arafah adalah hari yang para jamaah haji berwukuf di Arafah.” (yauma ‘arafah huwa al-yaumu alladzî yaqifu fîhi al hajîj bi-‘arafah). Sejumlah definisi inilah yang dianggap kuat (râjih) oleh Al-Lajnah Ad-Dâimah Lil Buhûts Al-‘Ilmiyyah wal Iftâ`(Dewan Tetap untuk Pengkajian Ilmiah dan Fatwa Saudi) di bawah pimpinan Syeikh Abdul Aziz bin Baz. Sejalan dengan ini Lajnah Al-Iftâ Al-Mashriyyah (Dewan Fatwa Mesir), Syeikh Hisamuddin ‘Ifanah dari Yordania, Syeikh Abdurrahman As-Sahim, dan lain-lain. (Abu Muhammad bin Khalil, An-Nûr As-Sâthi’ min Ufuq Al-Thawâli’ fi Tahdîd Yaumi ‘Arafah Idzâ Ikhtalafal Mathâli’, hlm. 3).

Definisi ini dipertegas dengan hadis Rasulullah SAW, anrara lain:

وَعَرَفَةُ يَوْمَ تَعْرِفُوْنَ

“Arafah adalah hari yang kamu kenal.” (‘arafah yauma ta’rifûn). (HR. Baihaqi, As-Sunan Al-Kubrâ, 5/176, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahîh Al-Jâmi’, no 4224).

Baca Juga :  Putri Mandalika 2023 dampingi Pembalap WSBK di Karnaval Promosikan Wisata dan Budaya di Lombok.

Oleh kerena itu keutamaan puasa Arafah menurut Rasullah SAW:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً

Artinya: “Puasa pada hari Arafah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.” (HR Muslim, Ahmad, an-Nasa’i, Ibnu Majah & Abu Dawud, dari Abu Qatadah

Jika seorang Muslim berpuasa bukan hari wukuf di Padang Arafah, misalnya berpuasa satu hari sebelumnya maupun sesudahnya, berarti dia telah menyimpang dari hukum syariah.Berdasarkan sabda Rasulullah SAW :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu perbuatan (amal) yang tidak ada perintah kami atasnya, maka perbuatan itu tertolak.” (HR. Bukhari no 2550; Muslim no 1718). Ketiga, karena berpuasa Arafah secara berbeda dengan wukuf di Arafah telah berbeda dari patokan wajib untuk menentukan Idul Adha dan rangkaian haji di bulan Dzulhijjah, yaitu rukyatul hilal yang dilakukan oleh Wali Mekkah (penguasa Mekah). Dengan kata lain, patokannya bukanlah hisab, dan juga bukan rukyatul hilal di masing-masing negeri Islam berdasarkan prinsip ikhtilâful mathâli’ (perbedaan mathla’).

Yang lebih tepat, perbedaan mathla’ tidak dapat dijadikan patokan (laa ‘ibrata bikhtilâf al mathâli’), karena telah terdapat dalil yang khusus menunjukkan bahwa penentuan Idul Adha, termasuk waktu haji seperti wukuf di Arafah, wajib mengikuti rukyatul hilal Wali Mekkah (Penguasa Mekkah), bukan yang lain. Jika Wali Mekkah (Penguasa Mekkah) tidak berhasil merukyat hilal maka Wali Mekah mengamalkan rukyat dari negeri-negeri Islam di luar Mekah.Dari Husain bin Al-Harits Al-Jadali RA, dia berkata :

أنَّ أَمِيْرَ مَكَّةَ خَطَبَ ، ثُمَّ قَالَ : عَهِدَ إلَيْنَا رَسُوْلُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤيَةَ ، فَإِنْ لَمْ نَرَهُ ، وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا

“Amir (penguasa) Mekah berkhutbah kemudian dia berkata, “Rasulullah SAW telah berpesan kepada kita agar kita menjalankan manasik haji berdasarkan rukyat. Lalu jika kita tidak melihat hilal, dan ada dua orang saksi yang adil yang menyaksikan, maka kita akan menjalankan haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR. Abu Dawud, hadis no 2340. Imam ad-Daraquthni berkata, “Hadis ini isnadnya muttashil dan shahih.” Lihat Sunan Ad Daraquthni, 2/267. Syeikh Nashiruddin Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud (2/54) berkata, “Hadis ini shahih”).

Hadis ini menunjukkan bahwa yang mempunyai otoritas menetapkan pelaksanaan haji, seperti hari Arafah dan Idul Adha, adalah Amir Mekah (penguasa Mekah), bukan yang lain. Jika Wali Mekkah (Penguasa Mekkah) tidak berhasil merukyat hilal, maka Wali Mekah mengamalkan rukyat dari negeri-negeri Islam di luar Mekah, misalnya dari Indonesia, Mesir, Maroko, dan sebagainya.

Baca Juga :  Kunjungan Kerjasama Internasional Kolej University Islam Perlis ( KUIPs) Dengan STIE Ganesha.

Maka berpuasa Arafah secara berbeda dengan hari Arafah karena mengikuti rukyat masing-masing negeri Islam, maka hukumnya tidak sejalan dengan sunnah Rasul, karena telah meninggalkan patokan yang ditetapkan Rasulullah SAW, yaitu rukyatul hilal penguasa Mekah.

Akhirnya saya mengajak umat Islam muslimin seluruh dunia udah saatnya mengikuti rukyatul hilal Mekkah dalam segala hal yang terkait dengan ibadah haji, misalnya waktu wukuf di Padang Arafah, Idul Adha, dan sebagainya.

Dalilnya firman Allah SWT :

وَاذْكُرُوا اللّٰهَ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ

“Dan berzikirlah kamu dalam ibadah haji kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan jumlahnya.” (QS Al-Baqarah : 203)

Imam Ibnul ‘Arabi menafsirkan ayat tersebut dengan berkata:

[ … وَأَنَّ سَائِرَ أَهْلِ اْلآفَاقِ تَبِعٌ لِلْحَاجِ فَيْهَا] . أحكام القرآن 1/143.

“Bahwa seluruh umat Islam dari berbagai belahan dunia wajib hukumnya menunaikan haji di Mekkah.” (Imam Ibnul ‘Arabi, Ahkâmul Qur`ân,Juz I, hlm. 143).

Syekh Dr. Muhammad Sulaimân Al-Asyqâr mengatakan :

إِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ جَمِيْعِ أَقْطَارِ الْعَالَمِ اْلإِسْلاَمِيِّ قَدْ أَجْمَعُوْا إِجْمَاعاً عَمَلِيّاً مُنْذُ عَشَرَاتِ السِّنِيْنَ عَلىَ مُتَابَعَةِ الْحُجَّاجِ فِيْ عِيْدِ اْلَأْضْحَى وَلاَ يَجُوْزُ لِأَيِّ جِهَةٍ أَوْ مَجْمُوْعَةٍ مِنَ النَّاسِ مُخَالَفَةُ هَذَا اْلإِجْمَاعِ

“Sesungguhnya kaum muslimin di seluruh penjuru Dunia Islam telah sepakat dengan kesepakatan yang bersifat ‘amal (dipraktikkan) (ijmâ’ ‘amali) semenjak puluhan tahun yang lalu untuk mengikuti para jamaah haji Idul Adha, dan tidak boleh bagi pihak atau kelompok mana pun untuk menyalahi ijma’ ini.” (Syekh Husamuddin ‘Ifanah,Al-Fatâwâ,Juz VI, hlm. 10;

Oleh sebab itu wukuf di Arafah merupakan puncak ibadah haji bagi jamaah yang sedang melaksanakan haji, sebaliknya yang tidak melaksanakan ibadah haji melakukan puasa Arafah sebagai bukti kebersamaan untuk penguatan iman dan taqwa dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia.
Wallahu a’lam.

Oleh:
Amirsyah Tambunan
Sekjen MUI

  • ) Tulisan singkat ini untuk menjawab pertanyaan para jamaah untuk melaksanakan puasa Arafah. Dikutif dari berbagai sumber untuk memaknai Idul Adha, 28 Juni 23 /10 Dzulhijjah 1444 H

Berita Terkait

Khutbah Jum’at Edisi 24 Januari 2025 “Sejarah Dan Tujuan Isra’ Mi’raj”
Rapat Pimpinan & Seminar Nasional Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCMI)
Masjid Jami’ Al-Ittihad Mengadakan Penggalangan Dana Solidaritas untuk GAZA, Palestina.
KAJIAN RUTIN: Kajian Tafsir Yasin karangan Syekh Hamami Zadah 
Peringati Maulid Nabi, IMSAK Jakarta Gelar Diskusi Santai.
Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 H,Warga Himalo Diaspora Gelar Doa Bersama
PANJI GUMILANG NGAWUR ALIAS BODOH TIDAK NGERTI AJARAN ISLAM
PENGAJIAN RUTIN BALAI WARGA BANGUN LESTARI TANGSEL
Berita ini 271 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 24 Januari 2025 - 02:43 WIB

Khutbah Jum’at Edisi 24 Januari 2025 “Sejarah Dan Tujuan Isra’ Mi’raj”

Kamis, 21 Desember 2023 - 04:27 WIB

Rapat Pimpinan & Seminar Nasional Masyarakat Cinta Masjid Indonesia (MCMI)

Minggu, 3 Desember 2023 - 04:33 WIB

Masjid Jami’ Al-Ittihad Mengadakan Penggalangan Dana Solidaritas untuk GAZA, Palestina.

Senin, 9 Oktober 2023 - 03:04 WIB

KAJIAN RUTIN: Kajian Tafsir Yasin karangan Syekh Hamami Zadah 

Jumat, 6 Oktober 2023 - 06:11 WIB

Peringati Maulid Nabi, IMSAK Jakarta Gelar Diskusi Santai.

Berita Terbaru