By. MS.Tjik. NG
بسم الله الرحمن الرحيم. يايهاالذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون ( البقرة الاية 183)
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang yg bertaqwa”
Khitob ayat ini secara spesifik tertuju kepada orang- orang yang beriman karena “orang-orang beriman” pasti otomatis sebagai seorang Muslim, bukan sebaliknya._


Kapan tibanya bulan puasa Ramadhan. ? Emak-emak menjawab dengan lantang, biasanya
ditandai dengan melangit nya bahan Sembako di Pasar-Pasar dan dentuman mercon dan juga banyak terdapat para pedagang dadakan khususnya penjual Es Buah, Kolak , kudapan tradisional hingga gorengan untuk pembuka puasa
Ritual tahunan ibadah puasa ramadhan kini telah tiba dan sedang di tunaikan oleh seluruh ummat Islam yang beriman di seluruh dunia. Suasana kebathinan menjadi haru dan gembira, Alhamdulillah karena puasa ramadhan tahun ini lebih khusyu’ leluasa bebas dari ancaman pandemi covid-19._
Seluruh ummat Islam dan Orang awam pun sudah sangat faham dan mengerti bahwa “Puasa” adalah menahan diri untuk tidak makan tidak minum, dan tidak melakukan hubungan suami isteri pada siang hari.
Dalam berbagai refrensi disebutkan secara etimologis:
الصوم -الصيام : الامساك عن الشهوتين
“Puasa itu adalah menahan dari dua syahwat yaitu syahwat makan/minum dan syahwat hubungan suami isteri”
Berpuasa khususnya Ibada puasa ramadhan telah sejak balita sdh diajarkan meskipun puasanya cuma setengah hari saja, pada usia remaja hingga pada usia lanjut (lansia) itu berarti kita telah mengerjakan ibadah puasa ramadhan tidak kurang 10 kali hingga 60 kali lebih._
Kurun waktu yang cukup panjang dan tentu sudah sangat berpengalaman cobalah merenung dan mengevaluasi, merefleksi totalitas ibadah puasa yang telah dilakukan selama ini, apa dan bagaimana dampaknya pada gelora emosi spiritualitas- kerohanian dalam upaya menjangkau dialogis ilahiyah, karena puasa dalam perspektif Sufi bukan terletak pada kemampuan bertahan dan melawan oleh hantaman “dahaga-lapar” di siang hari, tapi jauh melampaui itu semua
_Imam Ghazali mengelompokkan Puasa menjadi 3 Cluster :
1.Puasa orang awam
Puasa pada level
Pertama ini disebut
Sebagai shaumul umum atau puasanya orang awam, biasa biasa saja puasa di level ini cuma sebatas menahan lapar dan dahaga serta hal-hal membatalkan puasa, dengan nilai scoring “good”
2. Puasa Orang Khusus
Disebut shaumul khushus atau puasanya orang-orang spesial, pada level ini nilai scoringnya “very good” , mereka berpuasa lebih dari sekedar menahan lapar dan dahaga serta hal-hal yang membatalkan puasa tapi mereka juga puasa menahan pendengaran, lisan penglihatan dan menjaga menahan gerak gerik anggota tubuh
3.Puasa Orang Super Khusus
Level ini adalah paling tinggi menurut Imam Ghazali disebut Shaumul Khushusil Khushus , inilah praktek puasanya pada nilai scoring “hyper good and hyper smart” orang-orang istimewa
Mereka tidak saja menahan diri dari maksiat mereka menahan dan mrngontrol hatinya dari hal hal meragukan tentang keakhiratan dan melepaskan semua beban pikiran dan hati dari yang bersifat duniawi dan materi, fokus dzikir hanya kepada Al-Haq (Allah SWT)
-000-
Seperti dalam Hadits Nabi Muhammad SAW :
عن ابي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ليس الصيام من الاكل والشراب انما الصيام من اللغو والرفث فان سباك احد او جهل فليقل اني صايم. اني صايم ( رواه ابن حزيمه )
“Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah bersabda bukanlah puasa itu dari makan dan minum , sesungguhnya puasa (yang sebenarnya) adalah dari perbuatan sia sia dan perkataan kotor dan jika orang mencelam dan mengajakmu bertengkar denganmu maka katakanlah Sesungguhnya aku adalah orang yang berpuasa, sesungguhnya , Aku orang yang berpuasa
(HR. Ibnu Khuzaimah )_
Saatnya untuk merekonstruksi ulang seputar ibadah puasa yang saban tahun dilakukan, ada yang baru belajar, ada juga yang sudah 10 kali hingga 60 kali bahkan lebih dalam melaksanakan puasa ramadhan namun belum merasakan nikmat dan substansi berpuasa yang bernilai surplus
Bagi pari kaum Sufi berpuasa itu adalah “adalah suatu keinginan untuk merasa lebih dekat dengan Tuhan dan memperoleh komunikasi langsung dan disadari hubungan dan dialog langsung dengan Tuhan
Sebagai kesadaran yang memposisikan kedaulatan Ilahiah, ruhaniah dan spiritual di atas kedaulatan jasmaniah, insaniah dan material” (Prof. Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbsgai Aspek, Jilid II/1979)
Dalam lapar dan dahaga Para Sufi sudah terbiasa
berdamai dengan badan, dalam lapar timbul kejernihan hati dan fikiran itulah modal dasar untuk asyik berdzikrullah, maka kosongkan perutmu, persempit aliran darah pintu jalan masuk Iblis dan Setan terkutuk.
Jalan menuju kedekatan dengan Tuhan ini dapat dibangun melalui fasilitas puasa ramadhan. Pengalaman Rabiatul Adawiyah dalam membangun komunikasi begitu intim dengan Tuhan. “Mahabbah”, cintanya pada Tuhan, begitu fenomenal dan terkenal (714-801M).
Pada klimaks “Mahabbah” nya Rabiatul Adawiyah berkata lirih “Kekasih hatiku hanya Engkaulah yang aku Cinta ampunilah bagi pembuat dosa ini yang datang kehadirat-Mu , Engkaulah harapanku, kebahagiaan ku dan dambaanku, kesenanganku, hati telah enggan mencintai selain diri-Mu”
Sedangkan Dzunnun Al-Misry ketika telah tiba pada “al-ma’rifahnya” berkata ” Aku mengetahui Tuhan melalui Tuhan dan sekiranya bukan karena Tuhan, niscaya Saya tidak akan pernah tahu pada Tahun”._
Begitupun Yazid Al-Bustami (lahir 874M) dengan”Al-Ittihad” nya Ibnu Arabi dengan “Wihdatul Wujud”nya, dan Al-Hallaj (858-922M) dengan Al-Hulul , penyatuan bathinnya dengan Tuhan._
Kedekatan hubungan dengan Tuhan para Sufi jangan pula difahami sebagai kedekatan bersatunya secara pisik (jasmani), seperti pemahaman dan sangkaan ulama fiqh masa lalu, Imam Al-Ghazali menjelaskan dengan gamblang bahwa “sebuah penyatuan Al-Takhalluq Bi Akhlaqillah ala thaqa al-basyariyah” menghias diri dengan sifat-sifat Allah sesuai dengan kadar kesanggupan manusia” .Jika Allah SWT memiliki sifat kasih-sayang sudah sepantasnya msnusia menirunya untuk bersifat kasih sayang pula kepada sesama manusia”
Kasih Sayang itu bersendikan Cinta, Jalaluddin Rumi menyebut kan , bahwa “Yang pertama diciptakan Tuhan adalah Cinta sebagai kekuatan kreatif dasar yang menyusup ke dalam setiap makhluk dan menghidupkan mereka”
Menurut Rumi puasa tidak sebatas menjaga mulut untuk tidak makan dan minum, namun juga menjaga mulut untuk tidak menyakiti orang lain seperti menghardik, menggunjing, memfitnah dan berbohong
Rumi, patah hati dengan dunia puasa sebagai obat nya. Puasa sebagai jamuan ruhani dan puasa juga sebagai wasilah menyambut hidangan langit
Bagi Rumi , Gerakan kelebat aurora adalah pujian terhadap Tuhan, bahkan geseran lempengan bumi sebagai kreasi cinta dari sang makhluk karena Cinta adalah kasih sayang universal
Dan Rumi pun terus asyik tenggelam dalam tarian darwis berputar mengitari porosnya
Betapa untungnya mereka mendapatkan anugerah bulan puasa ini, bagaikan tarian sakral para sufi. Puasa ini pun mampu membuat seluruh ummat Islam mabuk dan mabuk dalam kerinduan penyatuan dengan Rabb-nya Sebuah ekstase dalam mempertemukan jiwa kepada Kekasih
Ramadhan sebagai bulan puasa 1 bulan bentuk pengorbanan jiwa yang ikhlas seorang pemeluk agama . Bukankah Cinta menuntut pengurbanan, bentuk pengurbanan jiwa raga dan hati hanya semata kepada Allah SWT azza wajalla
Semangat Sufistik dalam melaksanakan ibadah puasa satu tahun sekali ini sebagai langkah besar untuk diteladani merubah ke arah yang lebih baik lebih berani agar lebih berkualitas dan tentu lebih berkelas
Meskipun Para Sufi tidak ingin memaksakan gaya berpuasa mereka kepada orang-orang awam, namun demikian tidak ada salahnya untuk mencoba ._
Wallahu A’lam Bissawab. Red
