- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 23:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

OPINI

Ketika Amanah Menjadi Dagang Kekuasaan

 


Oleh: Didin Maninggara

Mengapa banyak pejabat pemegang amanah di pemerintahan acapkali berujung korupsi? Mendekam di tahanan lalu di bui? Mengapa pula korupsi era sekarang semakin menggurita dan jumlah trilunan?

Pertanyaan itu mengingatkan saya ketika wawancara khusus empat mata dengan Mochtar Lubis di kediamannya di Jalan Bonang, Jakarta Pusat pada 24 Juli 1995. Wawancara mengenai hal yang sama, saya lakukan juga dengan Prof. Dr. H.R. Sri Soemantri, S.H yang saat itu Rektor Universitas Tujubelas Agustus (Untag) pada 27 Agustus 1995.

Korupsi dengan segala sebab akibat yang dibedah oleh kedua tokoh itu, tak kehilangan relevansi dengan korupsi era sekarang. Era dua presiden yang sudah berganti. Dari Jokowi dua periode dan Prabowo. Bahkan dengan era sebelumnya.

Pengalaman empirik Mochtar Lubis sebagai wartawan sejak era Orde Lama, menyebut korupsi sudah terjadi di rezim Soekarno. Dilanjutkan era Soeharto dengan gencarnya bisnis anak pejabat, lalu muncul istilah KKN.

Salah satu jawaban substantifnya, karena keserakahan. Namun, sebab lain berderet-deret yang saling berkait.

Baca Juga :  Sahban Menuntut Hak Atas Tanah Miliknya

Keserakahan erat hubungannya dengan moral dan hati nurani. Orang yang serakah, mengabaikan hati nuraninya. Dia tidak peduli perasaan orang lain. Dia tidak mau tahu uang yang dikorupsi berasal dari uang rakyat. Jerih payah, keringat dan air mata rakyat.

Dalam konteks jabatan publik di pemerintahan, keserakahan menjadi cikal bakal korupsi. Sebab, hati nuraninya sudah mati. Dimatikan oleh gaya hidup yang serba mahal, semahal kebutuhannya: mobil mewah berjejeran. Rumah mewah dimana-mana. Tanah berhektar-hektar. Deposito mencapai angka ratusan miliar, bahkan triliunan. Sementara rakyat, untuk makan sehari pun banting tulang di tengah terik dan hujan yang mengguyur tubuh yang lelah.

Kalau pun hati nuraninya hidup, tetapi tidak berfungsi sebagai penjaga moral untuk membedakan hal yang benar dan salah.

Hati nurani adalah suara kejujuran. Bukan suara kemunafikan atau kebohongan.

Hati nurani tidak bisa diganti dengan pencitraan yang menjadi trend baru di kalangan pejabat. Sebab pencitraan merupakan akting semu yang situasional dan kondisional. Ia tak ubahnya sebuah ekspresi tanpa isi.

Baca Juga :  Ustad Rahmat Budianto isi Dakwah di syukuran Supian - Chandra Walikota & Wakil Walikota Depok. 2025 - 2029

Pejabat yang sering membangun pencitraan dalam sorotan kamera, dan ramai dipertontonkan di ruang publik, belum tentu mengandung nilai kepedulian dan kemanusiaan. Kata yang terucap tak menjamin berdasarkan hati nurani. Seperti halnya korupsi. Ketika jadi tersangka dan mendekam di balik jeruji besi, mulutnya berkoar mengklaim pembelaan diri.

Dimanakah amanah bersemayam? Amanah adalah nilai kemanusiaan, etika dan spiritualitas yang mendorong seseorang untuk bertindak secara adil dan bijak berkelindan dengan hati nurani sebagai kesadaran moral atau pengetahuan moral yang memproduk perasaan empati kepada rakyat.

Tetapi ketika amanah itu didagangkan karena ada kekuasaan dan jabatan, maka jadilah lahan korupsi.

Yang dikorupsi itu adalah hamparan sumber daya alam yang nyata dan membentang luas. Laut dan gunung menyimpan pesona. Semuanya dikorupsi.

Malu telah kehilangan makna digantikan senyum saat tersangka korupsi digiring dengan tangan diborgol.***

Didin Maninggara, jurnalis (1979 – sekarang), peserta diskusi Forum Wartawan Kebangsaan.

Berita Terkait

HUT RI ke 81,” Warga RT 8 RW 7 sambut Dirga Hayu Republik Indonesia
Maulid Nabi Muhammad SAW,” MT.BALWAN Kota Depok sambut hari besar Islam
Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau
SMSI Muratara kirim empat anggota untuk jadi Pengurus SMSI Kota Lubuklinggau
MUSALLA AL IKHAS GELAR PERINGATAN MAULUD NABI BESAR MUHAMMAD SAW,1448 H /2026 TELADANI AKHLAK RASULULLAH
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Bela Penimbun Pertalite Di Bogor Dan Tuding Miring Profesi Jurnalis
KABAR GEMBIRA BAND BARU BOSS FIVE AKAN SEGERA DIRILIS DI AKHIR TAHUN 2026
SIMPOSIUM NASIONAL 60 TAHUN KAHMI UNTUK KEDAULATAN BANGSA
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 10:32 WIB

HUT RI ke 81,” Warga RT 8 RW 7 sambut Dirga Hayu Republik Indonesia

Jumat, 25 September 2026 - 17:28 WIB

Maulid Nabi Muhammad SAW,” MT.BALWAN Kota Depok sambut hari besar Islam

Senin, 14 September 2026 - 15:19 WIB

Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 September 2026 - 15:04 WIB

SMSI Muratara kirim empat anggota untuk jadi Pengurus SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 September 2026 - 09:30 WIB

MUSALLA AL IKHAS GELAR PERINGATAN MAULUD NABI BESAR MUHAMMAD SAW,1448 H /2026 TELADANI AKHLAK RASULULLAH

Berita Terbaru

Tenar News

Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 Sep 2026 - 15:19 WIB