Indonesia dan Jalan Menuju Rupiah Berdaulat: Saatnya Berani Lepas dari “Ngemis Dolar”*
_Saatnya Anak Muda Menulis Ulang Arah Sejarah_
_Oleh: Budiawan, KAM Institute_
> *“Bangsa yang besar adalah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri.”*
> — *Ir. Soekarno*
Gen Z dan Alpha,
Pernahkah kalian merasa heran, mengapa negeri yang begitu kaya ini—dengan tambang emas, nikel, lahan pertanian, laut yang luas, dan populasi produktif yang besar—masih saja terasa rapuh setiap kali nilai tukar Rupiah terguncang?
Harga sembako naik, ongkos BBM melonjak, utang luar negeri menumpuk. Dan semuanya bermula dari satu titik lemah: kita terlalu bergantung pada *mata uang asing*, terutama dolar Amerika Serikat.
Padahal, bangsa-bangsa lain mulai bergerak. Negara-negara seperti Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan sudah menjalin kerja sama ekonomi yang tidak lagi bergantung pada dolar. Mereka menciptakan sistem tukar-menukar antar mata uang lokal. Mereka ingin lepas dari ketergantungan yang membuat mereka selama ini selalu berada di bawah.
Dan Indonesia? Kita punya peluang yang sama. Tapi pertanyaannya: *beranikah kita mengambilnya?*
*Rupiah Adalah Lambang Kedaulatan*
Setiap kali pemerintah membeli barang impor atau membayar utang luar negeri, kita harus lebih dulu menukar Rupiah menjadi dolar. Ketika nilai Rupiah melemah, seluruh beban itu jatuh ke pundak rakyat. Siapa yang paling merasakan? Keluarga biasa, para pelaku UMKM, anak-anak sekolah, dan seluruh lapisan masyarakat.
Maka sejatinya, perjuangan memperkuat Rupiah bukan sekadar soal ekonomi. Ini soal *harga diri bangsa*.
> *“Kemandirian finansial bukan hanya urusan uang, tapi pernyataan politik.”*
> — *Thomas Sankara*
Kita tidak akan pernah dihormati dunia jika terus bergantung pada aturan main pihak luar.
*Generasi Muda: Kunci dari Perubahan Itu*
Kalian adalah generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus teknologi. Kalian terbiasa berpikir kritis, terbiasa mempertanyakan narasi besar, dan tak ragu menggagas solusi baru. Maka jangan terima begitu saja sistem yang ada. Jangan biarkan nasib bangsa ini ditentukan oleh algoritma di bursa Wall Street.
Kalian bisa berkontribusi dari berbagai sisi:
* Mendirikan *startup teknologi finansial* yang mendukung perdagangan lintas negara dengan mata uang lokal.
* Menjadi *pendidik digital* yang menyebarkan kesadaran tentang pentingnya kedaulatan ekonomi.
* Mengembangkan bisnis yang mengedepankan *ekonomi lokal*, sebagai bentuk perlawanan elegan terhadap sistem global yang timpang.
* Dan yang paling sederhana, mulai *gunakan QRIS, GPN*, tinggalkan VISA dan MASTERCARD
*Teknologi Ada di Pihak Kalian*
Dunia sedang berubah. Banyak negara mulai melirik *mata uang digital bank sentral* (CBDC), termasuk Indonesia yang sedang menyiapkan Digital Rupiah. Di sinilah kesempatan terbuka lebar.
Kalian menguasai teknologi. Kalian tahu cara mengolah data, membangun sistem, dan menciptakan solusi digital. Maka pertanyaannya bukan lagi *mampu atau tidak*, tetapi *mau atau tidak*.
> *“Kuasai minyak, maka kamu kuasai negara. Kuasai pangan, maka kamu kuasai rakyat. Kuasai uang, maka kamu kuasai dunia.”*
> — *Henry Kissinger*
Tapi sekarang, bagaimana jika kita balikkan logika itu? Bagaimana jika generasi kalian yang memegang kendali sistem keuangan, bukan untuk menguasai dunia, tapi untuk *membebaskan bangsa ini dari ketergantungan*?
*Bayangkan Ini: Main di Rumah Sendiri, Tapi Wasitnya Orang Lain*
Bayangkan kalian mengadakan turnamen futsal di lapangan kampung sendiri. Tapi yang menjadi wasit, yang menentukan aturan, bahkan yang mencetak skor, justru orang dari kampung sebelah. Lalu ketika kalian menang, mereka menyebut kalian curang.
Itulah realitas sistem keuangan dunia saat ini. Kita bermain di lapangan sendiri—dengan sumber daya, pasar, dan tenaga kerja kita sendiri—tapi nilai kekayaan kita tetap ditakar dengan standar orang lain.
Maka, saatnya kita memanggil kembali semangat merdeka. Bukan hanya merdeka secara politik, tapi juga merdeka dalam sistem ekonomi dan keuangan.
*Kerja Sama Global Tanpa Dolar: Jalan Baru yang Terbuka*
Tanda-tanda perubahan sudah tampak. Indonesia telah menjalin kerja sama LCS (Local Currency Settlement) dengan Malaysia dan Thailand. Presiden Prabowo telah menghadiri forum BRICS dan menyuarakan pentingnya kolaborasi antar negara berkembang tanpa dominasi dolar.
> *“De-dolarisasi bukan soal menolak dolar, tetapi memberikan pilihan yang adil kepada negara-negara untuk berdagang atas dasar kesetaraan.”*
> — *Joseph Stiglitz*
Dunia sedang mencari arah baru. Dan Indonesia bisa menjadi penunjuk jalan, bukan sekadar pengikut.
*Tulis Ulang Sejarah, Jangan Sekadar Membaca*
Kita semua tumbuh dengan kebanggaan akan kejayaan Majapahit, kejayaan Sriwijaya. Tapi sejarah bukan hanya untuk dibaca, ia untuk ditulis ulang oleh tangan-tangan yang berani bermimpi dan bekerja.
Kalian bisa menjadi generasi yang mengantar Indonesia pada babak baru: *Indonesia yang berdaulat atas Rupiah*.
Bukan untuk menjadi negara adidaya, tapi untuk menjadi bangsa yang tegak berdiri, sejajar dengan siapa pun di dunia. Dan ketika kelak dunia berkata, “Kami siap berdagang dalam Rupiah,” kalian bisa menjawab, “Itulah visi kami sejak awal— “””.

