Meluruskan Dakwah Mizan Q Menjaga Kerukunan Ummat Beragama.

- Jurnalis

Jumat, 7 Januari 2022 - 06:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Polemik kontroversi cermah sdr.Mizan Q tokoh wahabi yang menceritakan kuburan tain basong dan kuburan onta telah mengganggu kenyamanan ummat muslim Lombok khususnya dan Nusantara umumnya terusik. Ceramahnya telah dengan sadar menyebut makam wali leluhur lombok yang diziarahi banyak muslim baik dari pulau lombok dan luar, diselaras dengan contoh kuburan kotoran (tai basong) perumpamaan ini tentu menyinggung semua kalangan seakan akan warga tidak dapat membedakan mana makam wali dan tai basong. Sungguh terlalu meminjam bahasa Bung Haji Roma.

Sangat disayangkan mengingat selama ini Mizan Q dibebaskan berdakwah bahkan mendirikan lembaga pendidikan hanya semestinya nilai luhur Nusantara yang sudah menjadi kearifan lokal jangan dipertentangkan. Mizan Q harus menyadari dia berada di negri Pancasila yang beragam bukan di negri Saudi. Artinya dinegri ini semua diberikan kebebasan asal tetap menjaga toleransi dan berdakwah dengan cinta jangan menyinggung syara.

Ceramah yang sejatinya menebar cinta damai penuh hikmah membangun solidaritas antar ummat, saling menguatkan, saling menghormati, menjaga moderasi, serta budaya kearifan lokal yang ada dijunjung tinggi. Bukan sebaliknya di lecehkan.

Vidio yang beredar luas walaupun sudah dibuat lagi Vidio klarifikasi untuk menenangkan suasana kegaduhan yang memancing emosi masyarakat luas sudah tidak terkendali, yang berujung dengan pelaporan ke pihak berwajib untuk segera polisi bertindak melaksanakan tugas memeriksa menyidik dst. Agar tidak menimbulkan kerusakan yang berlebihan di tengah masyarakat terhadap gejolok sosial yang ada, akibat beredarnya Vidio yang sangat mengganggu budaya masyarakat sasaq dan ummat Islam umumnya.

Berziarah kubur adalah tradisi Nusantara yang sudah menjadi agenda yang tidak terpisahkan dari kepercayaan agama tertentu khususnya Islam ahlussunnah waljamaah. Yang sudah membudaya di negri Nusantara ini, beda dengan budaya Saudi sekarang yang tidak terlalu perduli dengan makam kuburan leluhurnya.

Beragama itu adalah melakukan tindakan baik lisan maupun anggota badan dengan cara menghormati, menyayangi, mengasihi, sesama manusia dan mahluk Tuhan lainnya. Belum dikatakan beragama Jika masih mengganggu, mencaci, menghina, mengadu domba sesama. Karena semua agama bermuara menuju Tuhan. Hanya kita memiliki cara yang berbeda dalam beribadah. Pada dasarnya satu tujuan. Oleh karena itu, janganlah saling membenturkan keyakinan. Semestinya beceramah di publik itu hendaklah menghindari syara, politik memecah belah, mencaci keyaqinan atau kepercayaan orang lain. Karena disini adalah negri Pancasila. Semua kepercayaan itu diakui diberi kebebasan menjalankan ibadah sesuai kayaqinan dan kepercayaannya. UUD’45 Pasal 29.

Baca Juga :  TAHAPAN PERSIAPAN REKRUTMEN KPPS PILKADA SERENTAK 2024

Ceramah sdr. Mizan Q cendrung menyebarkan paham yang bertentangan dengan tradisi budaya Nusantara. Ini sebagai peringatan buat semua penceramah yang berhaluan Wahabi dan sejenisnya, hendaklah menyebarkan perdamaian, budaya gotong royong, saling menghormati, menebarkan kebaikan kemaslahatan. Bukan sebaliknya mengganggu keyakinan dan tradisi sesuatu daerah tertentu yang akan menghadirkan polemik baru.

Janganlah ada sekelompok orang memandang hanya kelompok dirinya yang memiliki surga, sementara kelompok lain berjalan berada dalam kesesatan. Janganpula sekelompok orang memaksa mengunakan atributnya dan tidak menghormati atribut orang lain. Tidak juga memandang rendah kelompok lain karena surga neraka itu adalah hak proregatif yang Maha. Jangan sampai kita beragama meninggalkan akhlaq lebih memprioritaskan seragam. Bukankah ada kisah penghuni surga karena keikhlasannya menolong anjing yang kehausan dia masuk surga. Ada juga penghuni surga ibadah pas-pasan tapi tidak pernah menyakiti mahluk dia tidak tidur sebelum maafkan saudaranya. Artinya yang membawa manusia ke surganya Allah bukan karena kehebatan ibadah seseorang dan banyaknya amal perbuatan. Tapi mereka masuk surgaNya Allah karena RithoNya.

Disini penekanan yang kami mau sampaikan atas nama forum kebangsaan selaku Presiden forum mari memberikan pencerahan pada ummat siapapun agama apapun dalam hal menjadi manusia yang berbudi kemuliaan. Manusia yang terus mau belajar, disiplin, kerjasama, tanggung jawab, Menjauhi prilaku korupsi. Dakwah yang moderasi, humanis, tidak berbau syara, dan paham teroris. Kedepankan paham Pancasila. Dan sesama anak bangsa saling mendoakan tolong menolong sehingga apa yang kita cita² kan bersama mewujudkan bangsa yang adil makmur sentosa dapat kita raih bersama.

Baca Juga :  Lanjutkan roda kepemimpinan, HIMAS Universitas PTIQ Jakarta gelar pemilihan umum.

Hindari tebar dakwah yang dapat merusak solidaritas persatuan dan kesatuan anak bangsa. Moderasi harus kita junjung tinggi sebagai wujud negri Pancasila. Saling menghargai menghormati sesama. Setop dakwah yang propokatif jangan merasa paling benar paling suci paling mulia. Karena semua agama intinya kasih sayang. Mari ambil intisari agama menebarkan dakwah baik dakwah sosial dan ekonomi dengan cinta kasih sesama ummat manusia.

Sudah saatnya kedepan ummat disuguhkan dengan dakwah yang mengajak pada kerja nyata membangun kreatifitas berekonomi, kerjasama dalam bisnis perniagaan, peningkatan kwalitas pertanian, perikanan, peternakan dst. Dengan demikian akan menghindari dari dakwah yang tidak berguna semisal membicarakan kuburan yang tidak ada manfaatnya terhadap kemajuan dan pradaban ummat manusia di bumi.

jika merujuk dakwah para Nabi beliau berbicara berdakwah dengan semua golongan ummat dan semua agama sebagai mana kanjeng Nabi Muhamamd yang tercermin di masyarakat Madinah. Kota Madinah waktu itu didiami dihuni oleh semua golongan dan semua agama. Seperti model Indonesia saat ini. Dakwah semestinya harus dapat di dengar oleh semua ummat manusia dan semua agama sejuk penuh hikmah membawa kepada kemaslahatan dan pradaban ummat manusia.

Ini sudah zaman tekhnologi dakwah yang hanya cerita soal halal haram, surga neraka tidak memberikan edukasi hanya menakutkan ummat untuk maju. Sederhananya surga dan neraka ada pada diri kita masing² tidak perlu kita cari habiskan waktu. Sebab kita manusia berbuat kebaikan maka itulah surga dan sebaliknya melakukan perbuatan keji itulah neraka. Kedepan model dakwah haruslah direvolusi dengan gerakan dakwah yang berkemajuan mengedepankan riset olah pikir dan zikir dengan gabungan tekhnologi, dengan demikian ummat akan tercerahkan sejalan dengan konsep Wahyu, Bacalah. Mari kita banyak membaca litrasi bukan banyak mendengar. Salam damai dari forum kebangsaan.

Penulis adalah : Presiden Forum Kebangsaan Samianto Muthohhar

Mantan Gubernur NTB ,Dua Priode

Berita Terkait

Mengunakan Medsos Tetap Menjaga Etika Publik
Pemkab Bogor Relokasi Ratusan PKL pasar Parung
Halal Bihalal UMKM Kelurahan Paninggilan Utara” UMKM Semakin Solid”
Puluhan Tokoh Sepakat Lanjutkan Gagasan Try Sutrisno, Kembali ke UUD 1945 dan Haluan Negara*
Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa
Dewan td Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa Jurnalistik
Dari Jakarta ke Dunia: Mengapa UU Penistaan Agama Indonesia Tertinggal dari Standar
Korban Banjir,” Warga RT 7/8 terima rembako dari Kades Warujaya
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 21:34 WIB

Mengunakan Medsos Tetap Menjaga Etika Publik

Sabtu, 18 April 2026 - 17:32 WIB

Pemkab Bogor Relokasi Ratusan PKL pasar Parung

Kamis, 16 April 2026 - 18:30 WIB

Halal Bihalal UMKM Kelurahan Paninggilan Utara” UMKM Semakin Solid”

Kamis, 16 April 2026 - 14:17 WIB

Puluhan Tokoh Sepakat Lanjutkan Gagasan Try Sutrisno, Kembali ke UUD 1945 dan Haluan Negara*

Kamis, 16 April 2026 - 14:07 WIB

Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa

Berita Terbaru

Tenar News

Mengunakan Medsos Tetap Menjaga Etika Publik

Senin, 20 Apr 2026 - 21:34 WIB

Tenar News

Pemkab Bogor Relokasi Ratusan PKL pasar Parung

Sabtu, 18 Apr 2026 - 17:32 WIB