Dalam memilih suatu pergaulan di dunia ini, hendaknya kita berhati-hati dan waspada. Salah dalam pergaulan dapat menyesatkan kita dari jalan kebenaran yang ada dalam agama. Karena fakta membuktikan betapa banyak orang salah memilih pergaulan yang berakibat kepada rusaknya kehidupan dalam hubungan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Nabi memberikan suatu gambaran bahwa seseorang dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Jika sahabatnya memiliki agama yang bagus, maka akan terciptalah suasana yang positif dan religius. Tetapi sebaliknya jika sahabatnya tidak memiliki agama yang baik, maka akan memiliki pandangan dan cara hidup yang jauh dari ajaran agama.
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang bisa dilihat dari perilaku beragama sahabatnya. Hendaklah kalian memperhatikan bagaimana sahabatmu dalam beragama. (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dengan adanya keterangan dari hadis tersebut, maka pergaulan dapat dikategorikan menjadi dua yaitu ada pergaulan yang sehat sesuai dengan panduan ajaran agama dan ada pergaulan yang tidak sehat, karena tidak berlandaskan nilai agama. Ada ilustrasi yang sering kita dengar dalam salah satu sabda nabi, bahwa jika kita bergaul dengan tukang wangi akan kecipratan bau wanginya, tetapi jika kita bergaul dengan tukang besi akan kecipratan bau besinya.
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”. (H.R. Bukhari dan Muslim
Untuk mengetahui bahwa ciri-ciri pergaulan yang sehat itu dapat dilihat dari apa saja sikap dan perbuatan baik yang terbiasa dilakukan di antara mereka. Mari kita mengetahui apa saja ciri-ciri dari pergaulan yang sehat;
Pertama, mengutamakan kejujuran
Inilah ciri pertama yang mesti ada dalam suatu pergaulan yang sehat yaitu hendaknya bersikap jujur, tidak mengada-ada dan tidak merekayasa apapun bentuknya karena ada suatu kepentingan pribadi yang ingin didapatkan. Sikap jujur ini sangat penting, karena ini yang membuat pergaulan itu akan awet dan tidak akan terpisahkan oleh apapun kepentingan-kepentingan sesaat dengan melakukan tindakan kebohongan dan tipu daya.
Kedua, saling mendukung
Apapun yang menjadi suatu program atau kegiatan dalam suatu pergaulan selama itu mendatangkan kebaikan bersama, hendaknya saling mendukung dan mensupportnya. Jangan sampai ada yang merusak dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak program dan kegiatan yang telah disepakati. Atau ketika ada suatu masalah, maka hendaknya saling membantu untuk keluar dari masalah tersebut, bukan malah meninggalkannya dan tidak peduli sama sekali.
Ketiga, saling memaafkan
Dalam pergaulan terkadang ada saja satu kesalahan yang dilakukan baik itu bentuknya disengaja maupun tidak disengaja. Maka sedapat mungkin kita memaafkan, saling berlapang dada dan tidak memperpanjang suatu kesalahan yang dapat membuat hancurnya pergaulan yang selama ini telah terbina dengan baik. Karena sejatinya setiap keturunan nabi Adam pasti pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah dengan memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, minta maaf kepada sesama dan memperbaiki kesalahannya.
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ.
“Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At Tirmidzi No. 2499)
Demikianlah sekelumit di Hari yang penuh berkah’,” Jumat” yang dapat saya sampaikan sebagai panduan untuk dapat memilih pergaulan yang sehat, sehingga kita terjaga dari jalan-jalan yang menyesatkan dalam pola pikir dan prinsip-prinsip dalam kehidupan.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْر الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.
أ

