Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia Kolom Opini — Refleksi Kebangsaan

- Jurnalis

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia
Kolom Opini —.

 

Oleh Samianto Muthohar .Refleksi Kebangsaan

“Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negara.” Pesan yang dikenal luas dari John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat, ini sejalan dengan semangat pidato pelantikan Presiden Soekarno yang menekankan pengabdian kepada bangsa dan negara. Pesan tersebut tetap relevan untuk direnungkan oleh setiap anak bangsa di tengah dinamika politik, sosial, dan pemerintahan Indonesia saat ini.

Bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh pemimpin yang bekerja, tetapi juga oleh rakyat yang mau memahami, mengawasi, mengkritik secara bertanggung jawab, dan ikut memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan negaranya.

Melihat Indonesia dengan Pikiran Jernih
Di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, berbagai agenda pembangunan dan penegakan hukum menjadi bagian dari perhatian publik. Semangat pemberantasan korupsi, pembenahan tata kelola pemerintahan, penguatan kedaulatan nasional, serta peningkatan kesejahteraan rakyat merupakan cita-cita yang patut diperjuangkan bersama.

Upaya membersihkan praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, mafia yang merugikan kepentingan umum, dan berbagai bentuk intervensi yang mengancam kepentingan nasional harus dilakukan secara konsisten. Namun, setiap tindakan penegakan hukum harus berlandaskan bukti, prosedur yang sah, dan asas keadilan. Tidak seorang pun boleh dianggap bersalah hanya karena perbedaan pandangan atau kritik terhadap pemerintah.

Di sinilah kedewasaan sebuah bangsa diuji. Kita perlu membedakan kritik yang membangun dengan informasi menyesatkan, perbedaan pendapat dengan fitnah, serta pengawasan publik dengan upaya memecah belah masyarakat.

Ketika Media Sosial Menjadi Medan Pertarungan Opini
Media sosial kini menjadi ruang yang sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi masyarakat. Informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, tetapi kebenarannya tidak selalu diperiksa sebelum dibagikan.

Ketika pemerintah menjalankan program pembangunan dan pembenahan negara, masyarakat berhak mempertanyakan hasilnya, mengawasi anggaran, serta menilai apakah kebijakan benar-benar memberikan manfaat. Sebaliknya, pemerintah juga layak mendapatkan penilaian berdasarkan hasil kerja nyata, bukan semata-mata berdasarkan narasi yang viral.

Anak bangsa hendaknya tidak mudah terjebak dalam pertarungan opini yang hanya menonjolkan keburukan, memperbesar permusuhan, atau menghilangkan kesempatan untuk melihat kemajuan. Sebelum menyebarkan suatu informasi, periksalah sumbernya. Sebelum menghakimi seseorang, pahami persoalannya. Sebelum menyimpulkan bahwa negara gagal, lihat pula apa yang sedang dikerjakan, apa yang sudah tercapai, dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Baca Juga :  Mobil Mewah Milik Prabowo Subianto, Harta Kekayaan Seperti Sultan Tembus Sampai Rp2 Triliun

Sikap kritis bukan berarti harus selalu menentang. Demikian pula, mencintai negara bukan berarti harus selalu membenarkan pemerintah. Patriotisme yang dewasa adalah keberanian menyampaikan kebenaran sekaligus kesediaan mengakui hal-hal baik yang memang telah dilakukan.

Asta Cita dan Harapan Indonesia Berdaulat
Asta Cita yang menjadi agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto membawa sejumlah arah pembangunan, mulai dari penguatan ideologi dan demokrasi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan pertahanan dan kemandirian bangsa, pembangunan ekonomi, hingga pemerataan kesejahteraan.

Cita-cita tersebut tidak akan terwujud hanya melalui pidato, slogan, atau kebijakan di atas kertas. Pelaksanaannya membutuhkan kerja nyata, integritas pejabat, pengawasan masyarakat, partisipasi dunia usaha, serta keterlibatan generasi muda.

Indonesia yang berdaulat bukan hanya Indonesia yang mampu menentukan arah politiknya sendiri, melainkan juga negara yang memiliki ketahanan pangan dan energi, industri yang kuat, pendidikan yang berkualitas, serta kemampuan mengelola sumber daya untuk kepentingan rakyat.

Indonesia yang sejahtera bukan sekadar negara yang mencatat pertumbuhan ekonomi, melainkan negara yang memastikan masyarakat memperoleh kesempatan kerja, pelayanan kesehatan, pendidikan yang layak, keadilan hukum, dan kehidupan yang bermartabat.

Karena itu, keberhasilan agenda pemerintah perlu dinilai secara objektif melalui pelaksanaan program, transparansi, hasil yang terukur, dan manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Negara sedang bekerja siang malam memastikan program Asta Cita wujud di tanah air tercinta.

Jangan Biarkan Kebencian Mengalahkan Pengabdian
Bangsa ini tidak kekurangan orang yang pandai berkomentar. Tantangan kita adalah melahirkan lebih banyak orang yang mau bekerja, berinovasi, menjaga integritas, dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Jika petani meningkatkan produktivitas, guru mendidik dengan tulus, tenaga kesehatan melayani dengan baik, pengusaha menciptakan lapangan kerja, aparatur negara bekerja tanpa korupsi, dan generasi muda menghasilkan inovasi, semuanya merupakan bentuk pengabdian kepada Indonesia.

Demikian pula, jurnalis yang menyampaikan fakta, aktivis yang memperjuangkan kepentingan masyarakat, dan warga yang mengawasi kekuasaan secara bertanggung jawab ikut menjaga masa depan bangsa.

Baca Juga :  Ustad Rahmat Budianto isi Dakwah di syukuran Supian - Chandra Walikota & Wakil Walikota Depok. 2025 - 2029

Jangan sampai perbedaan politik membuat kita kehilangan rasa persaudaraan. Jangan sampai derasnya informasi negatif menutup mata terhadap kerja nyata. Namun, jangan pula semangat persatuan digunakan untuk membungkam kritik atau menutupi penyimpangan.

Indonesia membutuhkan keberanian untuk membenahi kekurangan sekaligus kebijaksanaan untuk menghargai kemajuan.

Apa yang Sudah Kita Berikan kepada Indonesia?
Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bagi setiap anak bangsa bukan sekadar siapa yang sedang berkuasa, siapa yang paling keras mengkritik, atau siapa yang paling pandai membangun narasi di media sosial.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang sudah kita lakukan agar Indonesia menjadi lebih baik?

Apakah kita turut menyebarkan kebenaran atau justru memperluas prasangka? Apakah kita membantu menyelesaikan persoalan atau hanya memperbesar pertengkaran? Apakah kita ikut menjaga uang negara, lingkungan, persatuan, dan kepentingan rakyat?

Pemerintah harus bekerja dan bertanggung jawab. Rakyat harus tetap kritis dan berani mengawasi. Penegak hukum harus adil, media harus menjaga integritas, dan generasi muda harus berani menciptakan perubahan.

Jika ada penyimpangan, bongkarlah berdasarkan bukti. Jika ada ketidakadilan, perjuangkan melalui jalan yang benar. Jika ada keberhasilan, akuilah secara jujur. Jika ada kekurangan, doronglah perbaikan dengan pikiran jernih.

Sebab Indonesia bukan hanya milik pemerintah, bukan hanya milik kelompok politik tertentu, dan bukan pula milik mereka yang paling lantang bersuara. Indonesia adalah rumah bersama yang masa depannya ditentukan oleh tanggung jawab seluruh anak bangsa.

Mari belajar melihat sisi baik tanpa menutup mata terhadap kekurangan. Mari mendukung pembangunan tanpa kehilangan sikap kritis. Dan mari mengawasi kekuasaan tanpa kehilangan rasa cinta kepada Tanah Air. Bangun diskusi menghadirkan kemaslahatan bukan hanya mencari cari kesalahan.

Karena mencintai Indonesia bukan sekadar membela atau mengkritik pemerintah, melainkan memastikan bahwa setiap langkah yang kita ambil membawa bangsa ini semakin dekat pada kedaulatan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat.

Indonesia maju bukan karena rakyatnya berhenti mengkritik, melainkan karena kritik melahirkan perbaikan, pengabdian menghasilkan kemajuan, dan persatuan menjaga cita-cita bangsa tetap hidup. Rakyat ikut aktif menjaga negri. Tutup ruang koruptor mafioso antek asing mengadu domba anak bangsa.

( penulis Samianto Presiden Kebangsaan)

Berita Terkait

Tim SMA Dea Malela Raih Medali Perunggu pada Ajang ISIF & NSIF 2026 di Kampus Universitas Indonesia
Din Syamsuddin Jajaki Kerja Sama Cina dengan Masyarakat Muslim Indonesia dalam Berbagai Bidang Peradaban
INNALILLAHI, TUAN GURU BAGU WAFAT DI USIA 90 TAHUN, NTB KEHILANGAN ULAMA KHARISMATIK
Kh Husnul Maad Kholil, Ketua Nazir Ponpes Salafus Sholihin, Tunjukkan Dokumen Sah Tanah wakaf 2000M2 Sudah jadi Tol
DPMPTSP sebut bangunan Indomaret sudah miliki IMB?
Kapolri Suyudi Jadi Khatib di Mabes Polri: Jabatan dan Pangkat Itu Amanah
Ibu Ida Lawan Megapolitan, Kuasa Hukum Yakini Klien Korban Mafia Tanah
Proyek Revitalisasi SLBN di Praya Barat Loteng Rp 3,3 Miliar Terindikasi Korupsi, Progres Baru 50 Persen
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:03 WIB

Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia Kolom Opini — Refleksi Kebangsaan

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:51 WIB

Tim SMA Dea Malela Raih Medali Perunggu pada Ajang ISIF & NSIF 2026 di Kampus Universitas Indonesia

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:23 WIB

Din Syamsuddin Jajaki Kerja Sama Cina dengan Masyarakat Muslim Indonesia dalam Berbagai Bidang Peradaban

Kamis, 15 Oktober 2026 - 18:30 WIB

INNALILLAHI, TUAN GURU BAGU WAFAT DI USIA 90 TAHUN, NTB KEHILANGAN ULAMA KHARISMATIK

Rabu, 14 Oktober 2026 - 16:11 WIB

Kh Husnul Maad Kholil, Ketua Nazir Ponpes Salafus Sholihin, Tunjukkan Dokumen Sah Tanah wakaf 2000M2 Sudah jadi Tol

Berita Terbaru