Jakarta,TeNarnews.Com. Ketua serta Pengurus Daerah Bhayangkari Provinsi Papua Tengah turut ambil bagian di bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara (KBN) 2025, dalam rangka Hari Gerak Bhayangkari ke-73.
Agenda tahunan yang mengusung tema, “Sinergitas Bhayangkari bersama UMKM mendorong bersama ekonomi bangsa” yang digelar di Jakarta Internasional Convention Center (JICC) Senayan berlangsung 23-27 Juli 2025.
Kehadiran Bhayangkari Papua Tengah di bazar KBN adalah Melaunching Batik Papua Tengah.
Dengan ikon ikon seperti, Ikan Hiu Papua, Mama mama, Burung Cebdrawasih dan Patung Komoro.
Ketua Bhayangkari Papua Tengah, Riris Alfred Papare menyatakan kepada media, kehadiran Pengurus Daerah Bhayangkari Papua Tengah di bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2025 ini untuk Melaunching Batik Papua Tengah.
” Karena Kami sudah berdiri sendiri – DOB dengan wilayah Pemerintahan yang baru dengan delapan kabupaten se-Papua Tengah yakni, Nabire, Puncak Jaya, Paniai, Mimika, Puncak Jaya, Intan Jaya dan Deiyai.
Jadi disini Kami mau memperkenalkan sebagai Provinsi baru yakni Provinsi Papua Tengah dengan ciri khasnya, yang di tampilkan berupa gambar gambar Pakaian adat, Tutup kepala dan Atribut lainnya yang mencerminkan sebagai masyarakat Papua Tengah, ” Kata Ibu Riris.
Ia mengakui sebagai isteri Polri dan Pengurus Daerah Bhayangkari Papua Tengah wajib hadir di bazar KBN untuk mendukung Manusia Indonesia Emas 2045 mendatang yakni memajukan UMKM.
Dengan semangat memajukan UMKM khususnys wilayah Papua Tengah, pihaknya kini mengambil langkah merancangkan Noken dari kulit kayu yang kemudian di mix dengan kulit anggrek untuk menjadi sebuah Tas tradisional yang unik khas Papua Tengah.
Dengan harapan agar masyarakat luas semakin mengenal Papua Tengah melalui karya seninya berupa kerajinan tangan.
Kemudian di kenal dengan wisata laut yang memiliki Ikan Hiu yang besar besar, dan Patung Komoro serta Noken.
Di ketahui bahwa setiap suku di Papua memiliki Noken dengan motif dan bentuk yang beragam sesuai dengan karateristik wilayah masing masing.
Noken bukan sekadar kerajinan tetapi, menunjukan kearifan lokal yang ada sejak zaman dahulu.
Jadi perlu di lestarikan agar tidak punah di tengah modernisasi.
Mengingat Noken sudah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda.(dp)

