In Memoriam:(Mengenang Sosok Almarhum Buya Syafii Maarif)

- Jurnalis

Sabtu, 28 Mei 2022 - 09:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SYAFII MAARIF DAN ISU PERBUDAKAN SPIRITUAL

Denny JA….. (Media Nasional Tenarnewstv9)

“Bagi saya mendewa-dewakan mereka yang mengaku keturunan Nabi adalah bentuk
perbudakan spiritual. Bung
Karno puluhan tahun yang lalu
sudah mengeritik keras
fenomena yang tidak sehat ini”

Teks ini yang langsung teringat ketika hari ini saya mendengar wafatnya Syafii Maarif. Teks ini dituliskan di akun twitternya sendiri, di @SerambiBuya, tanggal 21/11/2020.

Syafii Maarif sangat kritis dengan kesan diagung- agungkannya seorang tokoh hanya karena isu ia dianggap keturunan Nabi Muhammad. Apalagi jika yang diisukan keturunan Nabi itu tidaklah mengesankan ulama yang pro cara berpikir modern.

Mengagungkan seseorang karena isu keturunan Nabi dianggap bertentangan dengan ajaran Islam yang progresif. Dalam Islam, semua orang pada dasarnya setara belaka. Hanya ketakwaannya yang membedakan, bukan asal usulnya.

Tak ada jaminan seorang keturunan Nabi, Raja, Guru Suci, atau keturunan Presiden, Konglomerat, lebih bertakwa dibandingkan individu lain. Lalu apa faedahnya mengagung- agungkan seseorang karena keturunannya?

Dalam kesempatan lain, Syafii Maarif juga cukup keras. Ujarnya, banyak dari kita yang tak bisa dan tak mau membedakan. Yang mana ajaran Islam, dan yang mana budaya Arab.

Celakanya, sambung Buya Syafii, ada budaya Arab yang sudah rongsokan, yang sudah jatuh, justru kita banggakan di Indonesia. Budaya rongsokan itu kita agung- agungkan. Munculah itu aneka radikalisme. ISIS adalah puncak warisan rongsokan budaya Arab. (1)

Hari ini, cendikiawan muslim, yang sangat keras melawan politisasi agama, yang acap disebut guru bangsa itu sudah tiada.

Baca Juga :  Trade Expo Indonesia ke-40 tahun 2025, PT.Bahari Agro Indonesia jalin hubungan kerjasama dengan buyer China

-000-

Di tahun 2017, beredar foto yang viral di media sosial. Nampak seorang pria di usia senja sedang duduk di stasiun kereta . Sendiri saja. Pria itu bersama banyak orang di sana, sedang menunggu datangnya kereta. Yang ditunggu adalah KRL jurusan Jakarta menuju Bogor.

Ternyata pria itu Buya Syafii Maarif. Foto itu diambil saat Ia akan Pergi ke acara peluncuran Program Penguatan Pendidikan Pancasila. Ini acara yang akan dihadiri dan diresmikan Presiden Joko Widodo, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Tenang dan enteng saja, Buya Syafii merespon soal foto viral itu. Ujarnya, “Saya memang orang kampung. Bagi saya sudah biasa berjalan kaki atau bersepeda puluhan kilometer. Naik ojek atau naik kereta api bersama rakyat banyak itu memang dunia saya.”

Buya Syafii nyaman- nyaman saja, di usia yang menua sekalipun, pergi ke mana-mana tanpa ada yang menenami. Ujarnya, saya juga tak punya beban pergi ke suatu tempat dengan angkutan umum.

Ujar Buya Syafii, ia berpikir praktis saja. Jika ia naik kereta, itu semata untuk efisiensi. Kalau ke Bogor lewat puncak kan bisa kena macet. Naik kereta, ia tak kena macet.

Si Anak Kampung. Itu justru sebutan yang Buya Syafii sukai soal dirinya. Si Anak Kampung lalu menjadi judul novel yang ditulis oleh Damiem Dematra, karena terinspirasi oleh kisah hidup Buya Syafii.

Baca Juga :  Kasus Mafia Tanah," Kajari Depok Tetapkan Dua Tersangka

Sebagai anak kampung, Buya Syafii acap kesulitan ekonomi. Beberapa kali sekolahnya tertunda karena tak memiliki biaya. Ia pernah menjadi buruh, atau guru, untuk menyambung hidup. Itu pekerjaan yang saat itu ada.

Kesulitan ekonomi, hidup yang sederhana, ternyata justu ikut menempanya memiliki karakter yang keras, berani dan peduli pada rakyat kecil.

-000-

Itu peristiwa sekitar tahun 2018. Saya tiba- tiba mendapat telefon, dari nomor yang tak ada nama dalam daftar saya. Ternyata itu dari Buya Syafii. Saya tak menyimpan nomor hanphone yang digunakan Buya Syafii Maarif.

Buya Syafii mengucapkan selamat atas pelatihan Pancasila yang saya selenggarakan di 34 provinsi. Pendidikan politik yang saya buat itu luas diberitakan karena memecahkan rekor dunia. Itu pendidikan politik terbesar Guieness Book of World Record.

Buya menyampaikan pesan yang kuat. “Apapun yang adinda lakukan, lakukan dalam kerangka Keindonesiaan. Dinda membantu calon presiden untuk menang. Atau dinda mengkritik penguasa yang zalim, kerjakan itu dalam kerangka keindonesiaan.”

Hingga hari ini, ujar Buya Syafii, memang Pancasila berharga untuk disebarkan, untuk merekatkan kita selaku bangsa yang beragam.

Sambil bercanda, saat itu saya menjawab: “Siaaap komandan.” Ia tertawa.

Selamat jalan Syafii Maarif. Selamat jalan Buya. Selamat jalan Guruku.***

Atas Jasa, Pengabdian kepada Negara ,Bangsa, dan Agama sosok Almarhum yang harus di kenang sepanjang masa..

Berita Terkait

Pernyataan Dewan Pers Tentang Tindakan yang Bernada Merendahkan Profesi Wartawan
Sidang Perdana Gugatan JPT Tangsel: DPP GHARIS Desak Pemerintah Kota Tangsel Terapkan Transparansi dan AUPB
KPK OTT Bupati Lombok Barat, 19 Orang Diamankan
Eksekusi Lahan di Serua Depok Diwarnai Perdebatan, Kuasa Hukum Termohon Sebut Batas Tanah Tak Jelas
Tingkatkan Kesadaran Mahasiswa, Kemenkum DK Jakarta Sosialisasikan Tindak Pidana Narkoba dalam KUHP Baru
Kanwil Kementerian Hukum DK Jakarta Bekali Siswa Baru SMKN 32 dengan Pemahaman Kenakalan Remaja dan Konsekuensi dalam KUHP Baru
Pengajian rutin mingguan Majlis ta’lim Bangun Lestari Pisangan Ciputat Timur 
Menko Yusril Ihza Mahendra di UIN Jakarta Soroti Pentingnya Etika Peradaban dalam Penegakan Hukum
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:06 WIB

Pernyataan Dewan Pers Tentang Tindakan yang Bernada Merendahkan Profesi Wartawan

Selasa, 21 Juli 2026 - 08:43 WIB

Sidang Perdana Gugatan JPT Tangsel: DPP GHARIS Desak Pemerintah Kota Tangsel Terapkan Transparansi dan AUPB

Senin, 20 Juli 2026 - 22:51 WIB

KPK OTT Bupati Lombok Barat, 19 Orang Diamankan

Sabtu, 18 Juli 2026 - 18:30 WIB

Eksekusi Lahan di Serua Depok Diwarnai Perdebatan, Kuasa Hukum Termohon Sebut Batas Tanah Tak Jelas

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:10 WIB

Tingkatkan Kesadaran Mahasiswa, Kemenkum DK Jakarta Sosialisasikan Tindak Pidana Narkoba dalam KUHP Baru

Berita Terbaru

Tenar News

KPK OTT Bupati Lombok Barat, 19 Orang Diamankan

Senin, 20 Jul 2026 - 22:51 WIB