Jakarta,Tenarnewstv /Serikat Media siber Indonesia,-Prof. Dr. Hasani Ahmad Said, S.Th.I., M.A. lahir pad hari Ahad, 21 Februari 1982 M./27 Rabiul Akhir 1402 H. Ia merupakan anak kesebelas dari dua belas bersaudara, putra pasangan H. Ahmad Syamsuri bin H. Said dan Sunariyah binti H. Surya. Di tengah keluarga yang dikaruniai dua belas anak, kehidupan tentu tidak selalu mudah. Orang tua harus membagi kasih sayang, perhatian, dan rezeki yang terbatas kepada begitu banyak anak. Ada masa ketika kebahagiaan terasa sederhana: sepiring nasi yang dinikmati bersama, pakaian yang harus bergantian, dan harapan yang dititipkan orang tua kepada setiap anak agar kelak memiliki kehidupan yang lebih baik. Sebagai anak kesebelas, Hasani tumbuh menyaksikan perjuangan itu dari dekat. Dari kampung, dari kesederhanaan, ia belajar bahwa hidup tidak selalu menyediakan jalan yang lapang. Tetapi justru dari keterbatasan itulah tumbuh tekad untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Barangkali, di balik pencapaian itu ada doa panjang seorang ibu, ada peluh seorang ayah, dan ada kenangan tentang sebuah keluarga besar yang pernah berjuang dengan segala keterbatasannya. Dari dua belas anak itu, seorang anak kampung tumbuh membawa nama baik keluarganya, mengangkat martabat orang tuanya, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.
Cilegon, Banten, tempat kelahiran Hasani adalah tanah religius yang tumbuh dari tradisi ulama, jawara, dan para pejuang—tanah yang dikenal dengan simbol tasbih dan golok, sebagai representasi perpaduan ilmu, iman, keberanian, dan pengabdian. Dari bumi Geger Cilegon, jejak perjuangan KH. Syam’un pendiri al-Khairiyah tempat ia menimba ilmu dari Madrasah Ibtidaiyah, Pondok Pesantren, Tsannawiyah hingga Aliyah, serta warisan keilmuan ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani prototipe mufassir nusantara idolanya, tumbuh semangat intelektual dan keulamaan yang membentuk perjalanan akademiknya. Berakar pada tradisi Banten yang kuat, Prof. Hasani Ahmad Said mengembangkan kiprah sebagai akademisi, intelektual, dan Guru Besar yang memadukan kedalaman keilmuan, nilai-nilai keislaman, serta semangat pengabdian kepada masyarakat. Perjalanan intelektualnya menjadi bagian dari ikhtiar meneruskan mata rantai tradisi keilmuan dan perjuangan Banten dalam konteks pendidikan tinggi dan kehidupan kebangsaan. Jejak intelektualnya mencapai salah satu tonggak penting ketika pada Wisuda ke-83 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2011, ia dinobatkan sebagai Doktor Terbaik Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Prestasi tersebut mendapat perhatian dari berbagai media, di antaranya Majalah Alo Indonesia dan Koran Radar Banten, yang menyoroti dirinya sebagai doktor terbaik, termuda, dan tercepat pada usia 28 tahun.
Berangkat dari kampung Pabean, Cilegon di tanah Banten, Prof. Hasani Ahmad Said menapaki jalan panjang pendidikan hingga meraih gelar doktor pada usia muda. Dalam perjalanan akademiknya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia dipertemukan dengan dr. Laeli Puspita Sari, putri Prof. Dr. KH. Fathurrahman Rauf, Guru Besar sekaligus mantan Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta salah satu tokoh penting PMII Ciputat. Pertemuan itu kemudian berlanjut dalam ikatan pernikahan dan membangun keluarga bersama. Kini, Prof. Hasani dan dr. Laeli dikaruniai dua putri, Nakhwa Haurajamila Elhasani dan Nahla Hania Elhasani. Dari perjalanan seorang anak kampung hingga menjadi Guru Besar, kisah hidupnya menjadi gambaran bahwa ilmu membuka jalan, ketekunan menuntun perjalanan, dan keluarga menjadi ruang tempat pengabdian menemukan maknanya. Dari keluarga, tradisi keilmuan, dan akar budaya Banten itulah ia menapaki jalan pengabdian sebagai seorang akademisi—menghidupkan ilmu, meneguhkan nilai, dan mengabdikannya bagi masyarakat, agama, dan bangsa.
Prof. Hasani Ahmad Said lahir dan tumbuh dalam rahim tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah yang telah mengakar kuat di tanah Banten. Cilegon, tempat kelahirannya, bukan sekadar dikenal sebagai “Kota Baja”, tetapi juga merupakan salah satu ruang penting dalam sejarah perjuangan, pendidikan, dan perkembangan Islam di Banten. Di tanah inilah tradisi ulama, santri, dan pejuang bertemu dan membentuk karakter keberislaman masyarakat yang kokoh, moderat, dan berorientasi pada ilmu serta pengabdian. Sejak kecil, Hasani bersentuhan dengan tradisi keagamaan yang diwariskan melalui lembaga-lembaga pendidikan dan organisasi Islam yang tumbuh dari rahim Banten. Di Cilegon, berdiri Al-Khairiyah, sebuah organisasi pendidikan dan keislaman yang lahir dari pergumulan ulama, santri, dan pejuang. Para pendirinya tidak hanya mengabdikan diri pada pengembangan ilmu dan pendidikan umat, tetapi juga turut mengambil bagian dalam perjuangan bangsa. Salah satu tokoh sentralnya, KH. Syam’un, dikenang bukan hanya sebagai ulama dan pendidik, tetapi juga sebagai pejuang yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Tradisi keislaman Banten juga menemukan jejak pentingnya di Menes, Pandeglang, melalui Mathla’ul Anwar, yang lahir sebagai gerakan pendidikan dan dakwah yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Kehadiran Al-Khairiyah di Cilegon dan Mathla’ul Anwar di Menes menunjukkan bahwa Banten memiliki tradisi intelektual-keagamaan yang tidak hanya membangun kesalehan individual, tetapi juga mencerdaskan masyarakat, mengembangkan pendidikan, dan menumbuhkan kesadaran kebangsaan. Akar keislaman Prof. Hasani Ahmad Said tumbuh dalam perjumpaan dua tradisi besar pendidikan Islam yang lahir dari tanah Banten, yakni Al-Khairiyah di Cilegon dan Mathla’ul Anwar di Menes, Pandeglang. Keduanya menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan, dakwah, dan perjuangan umat Islam Banten dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah. Namun, perjalanan keislaman Hasani tidak berhenti pada dua tradisi tersebut. Sejak masa kanak-kanak, remaja, hingga perjalanan pengabdiannya sebagai akademisi, ia juga tumbuh dan berproses dalam kultur Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Bagi Hasani, Nahdlatul Ulama bukan sekadar identitas kultural yang diwarisi dari lingkungan sosial-keagamaannya, tetapi juga menjadi ruang pengabdian yang dijalani secara struktural dan kultural.
Keterlibatannya dalam tradisi Nahdliyyah menjadikan perjalanan keagamaannya semakin kaya: mempertemukan tradisi pesantren, keilmuan Islam, dakwah, organisasi, dan pengabdian sosial. Karena itu, corak keberislaman Prof. Hasani dibentuk oleh pengalaman panjang hidup di tengah tradisi Ahlussunnah wal Jamaah—sebuah tradisi yang menempatkan ilmu, sanad keilmuan, penghormatan kepada ulama, keseimbangan, dan kemaslahatan umat sebagai bagian penting dari keberagamaan. Dalam konteks itulah, perjalanan intelektual Prof. Hasani Ahmad Said dapat dipahami. Ia tumbuh dari sebuah ekosistem keislaman Banten yang mempertemukan ulama, santri, pendidikan, perjuangan, dan pengabdian. Nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang diterimanya sejak masa awal kehidupan menjadi salah satu fondasi dalam membentuk cara pandang keagamaan dan intelektualnya: bahwa ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi harus melahirkan hikmah; bahwa pendidikan tidak sekadar mencerdaskan, tetapi juga membentuk akhlak; dan bahwa keberagamaan semestinya menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat dan bangsa.
Dari Cilegon—tanah ulama, santri, jawara, dan pejuang— Hasani kemudian menapaki perjalanan akademiknya hingga mencapai jenjang Guru Besar. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari kesinambungan tradisi panjang Banten: tradisi yang memuliakan ilmu, menghormati ulama, menjaga warisan keislaman, sekaligus menempatkan pengabdian kepada bangsa sebagai bagian dari keberagamaan. Dengan demikian, pengukuhan Prof. Hasani Ahmad Said sebagai Guru Besar bukan semata-mata pencapaian personal seorang akademisi, melainkan juga dapat dibaca sebagai mata rantai kesinambungan tradisi keilmuan Banten
—tradisi yang tumbuh dari masjid dan pesantren, dibangun oleh ulama dan santri, ditempa oleh sejarah perjuangan, dan terus menemukan bentuk barunya dalam dunia akademik.
Selepas meraih gelar doktor, perjalanan intelektual Prof. Hasani Ahmad Said tidak berhenti di ruang-ruang akademik dalam negeri. Ia melanjutkan rihlah ilmiah ke berbagai pusat keilmuan dunia, menjadikan perjalanan sebagai bagian dari ikhtiar memperluas wawasan, memperkaya perspektif, dan memperdalam kajiannya, khususnya dalam bidang Al-Qur’an dan Tafsir. Rihlah ilmiahnya membentang dari negara di Asia Tenggara—Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Filipina, menjangkau Asia Selatan seperti India; Asia Tengah seperti Uzbekistan; serta Asia Barat seperti Iran, Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Uni Emirat Arab. Kemudian ke Mesir pada 2011, lalu jejak intelektualnya juga meluas dari Asia ke Eropa Barat dari mulai Austria, Belgia, Jerman dan Belanda hingga Amerika Serikat.
Rangkaian perjalanan tersebut mempertemukannya dengan beragam tradisi keilmuan, khazanah tafsir, lembaga pendidikan, ulama, dan komunitas akademik lintas kawasan. Dengan demikian, kompetensi keilmuan Prof. Hasani dalam bidang Al-Qur’an dan Tafsir tidak hanya dibentuk oleh tradisi akademik Indonesia, tetapi diperkaya oleh perjumpaan intelektual yang melampaui batas Asia Tenggara, Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Barat, Eropa, hingga Amerika. Rihlah ilmiah baginya bukan sekadar perjalanan geografis, melainkan perjalanan intelektual: berpindah tempat untuk memperluas pandangan, mempertemukan khazanah, dan membawa pulang ilmu untuk dikembangkan serta diabdikan di tanah air.
Dari Banten ia belajar akar tradisi; dari pesantren dan organisasi ia belajar pengabdian; dan dari dunia akademik ia mengembangkan tradisi itu menjadi ikhtiar intelektual yang terus hidup dan relevan bagi zaman. Perjalanan intelektual Prof. Hasani Ahmad Said tidak hanya tercermin dalam jenjang akademik dan rihlah ilmiahnya, tetapi juga dalam produktivitas karya yang terus lahir dari pergulatan keilmuannya. Puluhan karya telah dihasilkan, baik dalam bentuk buku, artikel pada jurnal nasional dan internasional, maupun tulisan opini di berbagai media massa. Karya-karya tersebut merekam keluasan perhatian intelektualnya, terutama dalam bidang Al-Qur’an dan Tafsir, sekaligus menunjukkan kemampuannya mempertemukan khazanah keislaman klasik dengan persoalan-persoalan kontemporer. Melalui jurnal dan buku, ia berdialog dengan dunia akademik; melalui tulisan opini, ia menghadirkan gagasan keislaman ke ruang publik agar ilmu tidak berhenti di ruang-ruang perguruan tinggi.
Dengan produktivitas tersebut, karya bagi Prof. Hasani bukan sekadar capaian akademik, melainkan jejak pemikiran dan bentuk pengabdian. Setiap tulisan menjadi ikhtiar untuk membaca Al-Qur’an secara mendalam, kontekstual, dan relevan dengan dinamika kehidupan. Dari ruang akademik hingga ruang publik, ia berusaha menjadikan ilmu Al-Qur’an dan Tafsir tidak hanya dipelajari, tetapi juga dihidupkan, didialogkan, dan dihadirkan untuk menjawab kebutuhan umat dan masyarakat. Jiwa kepemimpinan Prof. Hasani Ahmad Said sesungguhnya telah tumbuh sejak bangku madrasah. Sejak tingkat Madrasah Tsanawiyah, ia telah dipercaya sebagai Wakil Ketua OSIS, sebuah pengalaman awal yang menempa keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan berorganisasi. Tradisi kepemimpinan itu berlanjut ketika menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah Al-Khairiyah. Di lembaga pendidikan yang tumbuh dari tradisi keislaman dan perjuangan Banten tersebut, Hasani dipercaya menjadi Ketua OSIS. Dari ruang sederhana organisasi pelajar inilah ia mulai belajar memimpin, mendengar, bekerja bersama, dan mengabdi.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi awal yang kelak mengantarkannya pada perjalanan panjang di dunia organisasi, akademik, dakwah, dan kepemimpinan keumatan—dari OSIS madrasah hingga organisasi tingkat nasional, dari seorang pelajar di Cilegon hingga Guru Besar di perguruan tinggi. Dalam ruang organisasi, Prof. Hasani Ahmad Said dikenal sebagai akademisi yang tidak berjarak dengan kehidupan umat. Kiprahnya membentang dari tingkat daerah, wilayah, hingga nasional, memperlihatkan konsistensinya dalam menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian. Di lingkungan Majelis Ulama Indonesia (MUI), ia aktif mulai dari MUI Kota Tangerang Selatan, MUI Provinsi Banten, hingga dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Komisi Dakwah MUI Pusat. Ia juga mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum Himpunan Sarjana Syariah Indonesia dan Ketua Bidang Dakwah PB Mathla’ul Anwar. Di lingkungan Nahdlatul Ulama, ia tercatat dua periode sebagai A’wan Syuriah PCNU Tangerang Selatan dan aktif dalam Majelis Ilmi JQH NU DKI Jakarta.
Pengabdiannya juga hadir dalam ruang intelektual dan kebangsaan melalui ICMI Kota Tangerang Selatan, di mana ia dipercaya sebagai Wakil Ketua bersama kepemimpinan Wali Kota Tangerang Selatan sebagai Ketua. Sementara itu, akar aktivismenya telah tumbuh sejak menjadi bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Tradisi perkaderan tersebut terus ia rawat melalui KAHMI Ciputat hingga kiprahnya di tingkat KAHMI Nasional. Rentang pengabdian tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Prof. Hasani tidak hanya berlangsung di ruang kuliah dan penelitian. Ia hadir di tengah ulama, akademisi, santri, organisasi keagamaan, dan masyarakat sipil. Di situlah ilmu menemukan medan pengabdiannya: membangun umat, merawat tradisi keislaman, memperkuat dakwah, dan menjembatani dunia akademik dengan kehidupan masyarakat.
Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, Prof. Hasani Ahmad Said tidak hanya mendedikasikan dirinya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, almamater sekaligus tempat pengabdiannya, tetapi juga aktif berbagi ilmu di berbagai lembaga pendidikan tinggi dan kaderisasi ulama. Di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pengabdiannya dalam pengajaran membentang pada berbagai jenjang, mulai dari sarjana (S1), magister (S2), hingga doktor (S3). Bidang-bidang yang diampunya berkelindan dengan kepakaran dan perjalanan intelektualnya, terutama Tafsir Maqashidi, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, metodologi dan pendekatan tafsir, kajian Al-Qur’an, tafsir tematik, Tafsir Nusantara serta khazanah keislaman dan spiritualitas Islam. Pada jenjang pascasarjana, pengajaran tersebut diarahkan tidak hanya pada penguasaan teks dan metodologi, tetapi juga pada kemampuan membaca Al-Qur’an secara kontekstual dalam menjawab persoalan kehidupan kontemporer.
Pengabdiannya dalam mencetak kader ulama juga dilakukan melalui Pendidikan Kader Ulama (PKU) UPTIQ–LPDP Istiqlal, tempat ia turut mengambil bagian dalam proses pembentukan generasi ulama yang memiliki kedalaman ilmu Al-Qur’an sekaligus keluasan wawasan keislaman. Selain di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Hasani juga pernah mengajar pada sejumlah program pascasarjana di perguruan tinggi keagamaan Islam, antara lain di IAIN/UIN Lampung. Ruang pengajaran yang lintas kampus dan lintas jenjang tersebut memperlihatkan bahwa kiprahnya sebagai dosen tidak terbatas pada transfer pengetahuan, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar membangun tradisi akademik, membimbing calon sarjana dan magister, serta menyiapkan generasi intelektual Muslim yang mampu mempertemukan kedalaman turats dengan tantangan zaman.
Dengan demikian, ruang kelas bagi Prof. Hasani bukan sekadar tempat mengajar. Ia menjadi ruang transmisi ilmu, pembentukan cara berpikir, dan pewarisan tradisi keilmuan—dari guru kepada murid, dari khazanah klasik menuju persoalan kontemporer, dan dari dunia akademik menuju pengabdian kepada umat. Selain mengajar dan meneliti, Prof. Hasani Ahmad Said menghabiskan sebagian waktunya untuk membina dan melayani umat. Baginya, ilmu tidak cukup hanya tinggal di ruang kuliah, jurnal, dan buku; ilmu harus turun ke tengah masyarakat, menyapa umat, dan menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, ia menjadikan mimbar, masjid, majelis ilmu, dan ruang media sebagai bagian dari medan pengabdiannya.
Sebagai Da’i Standardisasi Komisi Dakwah MUI Pusat dan Da’i Moderat ADDAI (Asosiasi Da’i dan Daiyah Indonesia), ia aktif menyampaikan pesan-pesan keislaman yang berakar pada Al-Qur’an dan tradisi keilmuan Islam, sekaligus relevan dengan kehidupan masyarakat. Dakwahnya menjangkau berbagai lapisan umat, dari khutbah Jumat, pengajian, tabligh akbar, hingga pembinaan keagamaan di berbagai lembaga dan institusi. Di ruang media, kiprahnya juga cukup luas. Ia menjadi pengisi berbagai program keislaman di TVRI, TVOne, ANTV, MNCTV, BeritaSatu TV, iNews, Elshinta TV, MNC Muslim, Ajwa TV, serta sejumlah kanal media lainnya. Di antaranya melalui program Serambi Islami, Assalamu’alaikum Nusantara, Satukan Shaf Indonesia, Cahaya Hati, Damai Indonesiaku, Bengkel Hati, Kutipan Ramadhan, Cermin Ramadhan, Hikmah Pagi, Risalah Iman, Jelang Ifthar, Cermin Muslim, Kajian Tafsir, Syiar Ramadhan, dan berbagai program dakwah lainnya.
Khusus melalui kajian tafsir, ia berusaha membawa kedalaman ilmu Al-Qur’an dari ruang akademik ke ruang publik. Tafsir tidak hanya dibaca sebagai disiplin keilmuan, tetapi dihadirkan sebagai petunjuk yang menyentuh kehidupan manusia. Inilah yang menjadi salah satu ciri pengabdiannya: mempertemukan bahasa akademik dengan bahasa umat. Dakwahnya pun tidak mengenal batas geografis. Ia dipercaya sebagai da’i, khatib, muballigh, dan imam di berbagai kota dan kabupaten, kementerian, lembaga pemerintahan, masjid dan musala, baik di dalam negeri maupun di berbagai negara. Dengan demikian, perjalanan dakwah Prof. Hasani memperlihatkan keluasan medan pengabdiannya—dari mimbar kampus ke mimbar umat, dari ruang televisi ke masjid, dari kajian ilmiah ke kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, mengajar, meneliti, dan berdakwah bagi Prof. Hasani merupakan tiga jalan yang saling bertemu: ilmu untuk dicari, diteliti untuk dikembangkan, dan didakwahkan untuk diamalkan. Hb ( Red )



