Pembebasan Lahan SMPN 36 Depok Disorot, Dugaan Mark Up Rp5 Miliar Mencuat

- Jurnalis

Minggu, 18 Januari 2026 - 19:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Depok, Tenarnewstv9 Media Cyber Indonesia: Proses pembebasan lahan untuk pembangunan Gedung SMP Negeri 36 di Kelurahan Jatijajar, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jawa Barat, menuai polemik. Nilai Uang Ganti Kerugian (UGK) yang bersumber dari APBD Kota Depok Tahun Anggaran 2025 sebesar Rp15.815.000.000 menjadi sorotan masyarakat dan aktivis, yang mempertanyakan transparansi serta mekanisme penetapan harga lahan.

Seorang Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) setempat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, rencana pembangunan SMPN 36 Jatijajar telah diusulkan sejak tahun 2022 oleh salah satu anggota DPRD Kota Depok, Ade Firmansyah.

Usulan tersebut, kata dia, berangkat dari kebutuhan mendesak akan sarana pendidikan negeri di wilayah Kelurahan Sukamaju Baru, Jatijajar, dan Cilangkap.

“Pada 2022 saya diminta menyusun proposal pembangunan SMP Negeri karena kebutuhan sekolah sangat tinggi di tiga wilayah tersebut,” ujar LPM saat ditemui di kawasan Setu Jatijajar, Depok.

Ia menjelaskan, pada tahun 2023 belum terdapat penetapan lokasi pembangunan. Baru pada 2024 muncul nomenklatur pembangunan SMPN 36, namun tanpa kejelasan lokasi lahan.

Memasuki tahun 2025, rencana awal menyebutkan lokasi pembangunan berada di Kelurahan Sukamaju Baru dengan luas sekitar 4.000 meter persegi. Namun, dalam perjalanannya, lokasi dipindahkan ke Kelurahan Jatijajar dengan luas lahan sekitar 3.000 meter persegi.

Baca Juga :  Dari Kemerdekaan menuju Kemakmuran Rakyat

Perubahan lokasi tersebut memunculkan pertanyaan publik, terutama terkait nilai pembebasan lahan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, harga kesepakatan awal antara pihak ahli waris dengan LPM berada pada angka Rp3.600.000 per meter persegi. Jika dikalikan dengan luas lahan 3.000 meter persegi, maka total nilai transaksi seharusnya berada di kisaran Rp10,8 miliar.

“Namun dalam proses pemberian UGK, saya tidak lagi dilibatkan. Bahkan saya diminta untuk tidak ikut campur oleh pihak kelurahan. Bukti komunikasi itu masih saya simpan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dirinya tidak mengetahui detail alasan perpindahan lokasi dari Sukamaju Baru ke Jatijajar maupun mekanisme pengalokasian anggaran yang telah ditetapkan. Menurutnya, hal tersebut menjadi kewenangan panitia pembebasan lahan dan instansi terkait.

“Silakan dikonfirmasi langsung kepada pihak yang berwenang, termasuk anggota DPRD yang mengawal program ini,” tegasnya.

Sementara itu, Maulana dari Lembaga Anti Korupsi Republik Indonesia (Lakri) Kota Depok menilai terdapat potensi kejanggalan dalam penetapan nilai pembebasan lahan tersebut. Ia menyebut, nilai NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) tanah di lokasi pembebasan berada di angka Rp3.745.000 per meter persegi.

Baca Juga :  Kadishub inisial E dan Anggota DPRD inisial ND Tersandung Khasus

“Jika mengikuti NJOP, maka nilai pembebasan untuk lahan 3.000 meter persegi seharusnya sekitar Rp11,235 miliar. Sementara yang dibayarkan pemerintah mencapai Rp15,815 miliar. Ada selisih sekitar Rp5 miliar yang patut dipertanyakan,” kata Maulana.

Ia juga mengungkapkan, pihaknya sempat mempertanyakan proses appraisal kepada Dinas Perumahan dan Permukiman (Rumkim) Kota Depok, termasuk pihak ketiga yang terlibat dalam penilaian harga lahan.

“Anggaran ini sudah disahkan DPRD dalam APBD 2025. Seharusnya perubahan nomenklatur lokasi dari Sukamaju Baru ke Jatijajar dilakukan secara terbuka dan sesuai prosedur,” ujarnya.

Maulana menegaskan, pembebasan lahan SMPN 36 Jatijajar melibatkan sejumlah instansi, di antaranya Dinas Rumkim, Dinas Pendidikan, Badan Keuangan Daerah, serta DPRD Kota Depok. Oleh karena itu, ia mendorong adanya audit dan klarifikasi terbuka kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi serta dugaan praktik mark up anggaran.

Hingga berita ini diturunkan, pihak-pihak terkait, termasuk Dinas Rumkim, Dinas Pendidikan, dan DPRD Kota Depok, belum memberikan keterangan resmi terkait polemik pembebasan lahan SMPN 36 Jatijajar tersebut. (Tim)

Berita Terkait

Diikuti 5.000 Pegiat Olahraga, Forprov II Banten 2026 Gabungkan Misi Gaya Hidup Sehat dan Pertumbuhan ekonomi 
HIPPI DPC Kota Depok Resmi dilantik, Wakil Walikota Depok Chandra Rachmansyah dorong UMKM naik kelas
Sertijab MPK OSIM MAN 1 Bogor, Kepala Madrasah Apresiasi Pengurus Lama dan Motivasi Pengurus Baru
Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia Kolom Opini — Refleksi Kebangsaan
Tim SMA Dea Malela Raih Medali Perunggu pada Ajang ISIF & NSIF 2026 di Kampus Universitas Indonesia
Din Syamsuddin Jajaki Kerja Sama Cina dengan Masyarakat Muslim Indonesia dalam Berbagai Bidang Peradaban
INNALILLAHI, TUAN GURU BAGU WAFAT DI USIA 90 TAHUN, NTB KEHILANGAN ULAMA KHARISMATIK
Kh Husnul Maad Kholil, Ketua Nazir Ponpes Salafus Sholihin, Tunjukkan Dokumen Sah Tanah wakaf 2000M2 Sudah jadi Tol
Berita ini 229 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 12:22 WIB

Diikuti 5.000 Pegiat Olahraga, Forprov II Banten 2026 Gabungkan Misi Gaya Hidup Sehat dan Pertumbuhan ekonomi 

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:46 WIB

HIPPI DPC Kota Depok Resmi dilantik, Wakil Walikota Depok Chandra Rachmansyah dorong UMKM naik kelas

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:55 WIB

Sertijab MPK OSIM MAN 1 Bogor, Kepala Madrasah Apresiasi Pengurus Lama dan Motivasi Pengurus Baru

Selasa, 20 Oktober 2026 - 00:03 WIB

Jangan Hanya Menuntut Negara, Saatnya Anak Bangsa Belajar Melihat Sisi Baik dan Berkontribusi untuk Indonesia Kolom Opini — Refleksi Kebangsaan

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:51 WIB

Tim SMA Dea Malela Raih Medali Perunggu pada Ajang ISIF & NSIF 2026 di Kampus Universitas Indonesia

Berita Terbaru