Mengambil Ibrah Puasanya Para Hewan

- Jurnalis

Sabtu, 1 April 2023 - 16:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : By. MS. Tjik. NG. Dewan Redaksi Tenarnews.com.

“Ada anak bertanya pada bapaknya buat apa berlapar- lapar puasa” … Penggalan lirik lagu populer dari Group Bimbo.

Pertanyaan dari seorang anak kepada bapaknya tersebut di atas, mudah dan ringan diucapkan namun berat untuk di jawab secara elaboratif

Beragam dan multi dimensi jawabannya, ada yang menjawab “bagus untuk kesehatan” ada juga yang menjawab “agar menjadi orang taqwa” ada lagi yang menjawab untuk turut “merasakan betapa derita lapar dan dahaga” Jika kita pertajam dan dikaji lebih dalam lagi pastilah akan menemu kan jawaban-jawaban yang lebih serius dan tak terduga karena disadari bahwa puasa adalah ibadah fenomenal

Puasa ramadhan ditinjau dari berbagai aspek tentu akan menghasilkan satu buah buku yang tebal. Untuk itu kita. batasi saja dan kita telaah yang ringan ringan dan simple saja

Boleh jadi semua sudah pada tahu berpuasa bermanfaat untuk kesehatan dan kebugaran tubuh, pisik sekaligus membuat ketentraman hati dan memperhalus emosi, rasa, budi pekerti, serta memperbaiki akhlak karena sejatinya puasa juga sebagai gerakan revolusioner serentak antara pisik, badan dan mental-spiritual pada waktu yang sama, karena sebelum saatnya puasa ramadhan , selama 11 bulan samudra perut manusia sudah terbiasa 24 jam terisi penuh luber, tiba-tiba ngerem mendadak untuk menahan lapar dan dahaga kondisi itu pasti membuat kaget, disini dibutuhkan Nawaitu yang kuat serta tekad semangat yang serius

-000-

Itu sebabnya para unggas ( ayam, burung, itik dan sejenisnya) sangat ekstrim menjaga untuk mengerami telur telurnya agar menetas dengan sempurna dan sukses.Biasanya setelah Induk ayam mengerami telur-telurnya sekira 21 hari maka telur tersebut akan menetas ( anak ayam keluar dari cangkangnya ) Jika saja mereka tidak disiplin mengeram, maksudnya tidak serius sering ditinggal pergi niscaya telur-telur itu tidak akan menetas dengan sempurna_

Tidak aneh jika Ayam sedang mengeram penampakannya juh lebih galak dan bengis, tidak makan dan juga tidak minum karena itu tuntutan ritual yang harus dilakukan oleh Ayam dan para unggas

Ulat dan Ular

Secara sunnatullah, hukum alam, berpuasa juga dilakukan oleh para hewan sebut saja Ayam , Ular dan Ulat dan banyak lagi yang lainnya jadi bukan nanya dilakukan oleh manusia yg beriman saja

Para hewan, binatang pun menjalani ritual puasa untuk kelangsungan hidup memperoleh derajat dan kesuksesan, misalnya Ular binatang melata dan reftil menakutkan ini pun berpuasa, artinya mereka juga tidak makan dan tidak minum cendrung berdiam diri, goal ending nya terletak pada pergantian atau peremajaan “kulit” mengganti kulit yang lama terkelupas, copot atau lepas berganti kulit baru yg lebih bagus dan mengkilap. Namun Ular tetap menjadi Ular juga meskipun telah berganti kulit baru artinya tidak ada perubahan yang mendasar

Bagaimana dengan “Ulat” atau Larva sangat jauh berbeda dengan Ular walaupun mereka sama-sama merayap. Ulat berpuasa dengan lebih ekstrim lagi, Ulat diawali dengan ritual menjadi kepompong sekira 15-20 hari membungkus dirinya rapat-rapat yang terbuat dari air liurnya disebut kepompong, lalu dalam beberapa hari kemudian kulit selaput tebal yang membungkus badannya pelan-pelan terkoyak dan keluar dalam wajah bentuk dan nama yang berbeda artinya bukan Ulat lagi

Sekarang Ulat itu keluar dan langsung terbang sambil mengipas ngipas
kan sayapnya yg indah dengan warna warni yang memukau dan kita menyebut sebagai “kupu-kupu” bukan Ulat lagi

Terjadinya perubahan pada karakter , selama menjdi Ulat dia musuh bebuyutan dedaunan karena dengan rakus memakan dedaunan. Setelah menjadi kupu-kupu sekarang menjadi sangat bersahabat dengan tumbuhan -tumbuhan karena turut membantu penyerbukan

Puasa ternyata tidak hanya dilakukan manusia saja tapi dilakukan oleh para hewan lainnya seperti Ulat, Ular , Ayam, Ikan Hiu, Beruang grizly, kelelawar dan lain sebagainya

Karakter dan cara kita berpuasa sangat menentukan hasil akhir (happy ending) nya itu sangat bergantung pada ritual kita lakukan, artinya tidak semata ritual belaka, tapi terletak pada penghayatan substansi ibadah puasa tersebut, bagaimana kita tahu jika tidak interes, bahwa lapar memaksa kita untuk sabar, sadar dan rendah hati selalu

Seperti sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya berbunyi:

(كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطش )

“Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-pa kecuali lapar dahaga saja. (HR. An-Nasa’i )

Jika berpuasa dilkukan hanya sebatas menggugurkan kewajiban belaka, tidak ada perubahan yang signifikan pada karakter yang lebih baik ,Cuma berubah pada tataran menu, kuliner berbuka dan sahur atau sekedar untuk maksud dan tujuan lainnya atau untuk mengenakan baju baru saja misalnya, pada saat lebaran, berarti jauh “panggang dari api”. Jangan sampai kita dipecundangi dan dikalahkan oleh puasanya para hewan , Ulat dan Ular

Makanya dalam pandangan Saya (Penulis) untuk belajar, mengambil ibrah dari cara hewan berpuasa tidak serta merta nilai-nilai kemanusian kita menjadi rendah tercampakkan. Bukankah “Alam tekambang menjadi Guru” begitu frasa orang minang yang terkenal

Kita berharap kuat untuk menjadi pemenang setelah satu bulan penuh berpuasa dengan segala perjuangan yg dilakukan dan ikhlas karena Allah semata maka insya Allah puasa yg kita kerjakan seperti puasanya Ulat (Lavra )yang sukses menjelma menjadi Kupu- Kupu indah mempesona, bukan puasanya Ular

Wallahu A’lam Bisshawab

( C320323 ) Red )

Baca Juga :  Giat Kampus Ganesha Melakukan Bakti Sosial 2023

Berita Terkait

Mengunakan Medsos Tetap Menjaga Etika Publik
Pemkab Bogor Relokasi Ratusan PKL pasar Parung
Halal Bihalal UMKM Kelurahan Paninggilan Utara” UMKM Semakin Solid”
Puluhan Tokoh Sepakat Lanjutkan Gagasan Try Sutrisno, Kembali ke UUD 1945 dan Haluan Negara*
Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa
Dewan td Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa Jurnalistik
Dari Jakarta ke Dunia: Mengapa UU Penistaan Agama Indonesia Tertinggal dari Standar
Korban Banjir,” Warga RT 7/8 terima rembako dari Kades Warujaya
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 April 2026 - 21:34 WIB

Mengunakan Medsos Tetap Menjaga Etika Publik

Sabtu, 18 April 2026 - 17:32 WIB

Pemkab Bogor Relokasi Ratusan PKL pasar Parung

Kamis, 16 April 2026 - 18:30 WIB

Halal Bihalal UMKM Kelurahan Paninggilan Utara” UMKM Semakin Solid”

Kamis, 16 April 2026 - 14:17 WIB

Puluhan Tokoh Sepakat Lanjutkan Gagasan Try Sutrisno, Kembali ke UUD 1945 dan Haluan Negara*

Kamis, 16 April 2026 - 14:07 WIB

Dewan Pers Gelar Diskusi Kasus Magdalene.id, SMSI Dorong Penguatan Mekanisme Sengketa

Berita Terbaru

Tenar News

Mengunakan Medsos Tetap Menjaga Etika Publik

Senin, 20 Apr 2026 - 21:34 WIB

Tenar News

Pemkab Bogor Relokasi Ratusan PKL pasar Parung

Sabtu, 18 Apr 2026 - 17:32 WIB