Subang,Tenarnews.com,- 20 Februari 2026 – Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, suara perenungan tentang makna hidup dan akhir zaman kembali digaungkan. Ketua Gerakan Akhir Zaman (GAZA), Diki Candra mengajak umat untuk menguatkan spiritualitas melalui wisata religi di , Kabupaten , Jawa Barat.
Menurut Diki, wisata religi bukan sekadar perjalanan fisik menuju tempat yang indah, tetapi juga perjalanan batin untuk mengingat hakikat kehidupan dan mempersiapkan diri menghadapi akhir zaman.
Dalam pandangannya, Bukit Lebah memiliki daya tarik tersendiri. Lanskap perbukitan yang tenang, udara yang sejuk, serta panorama alam yang luas menjadi ruang ideal untuk tafakur dan muhasabah.
“Di tempat seperti ini, manusia diingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan. Alam yang luas dan sunyi membuat hati lebih mudah tersentuh untuk mengingat Allah dan memikirkan kehidupan setelah mati,” ujar Diki.
Ia menegaskan bahwa fenomena akhir zaman bukan untuk ditakuti secara berlebihan, melainkan dijadikan pengingat agar umat semakin memperbaiki akhlak, memperkuat ibadah, dan meningkatkan kepedulian sosial.
Diki Candra menilai, tantangan terbesar umat saat ini bukan hanya persoalan ekonomi atau politik, tetapi juga krisis moral dan spiritual. Ia menyebut berbagai gejala sosial mulai dari lunturnya nilai kejujuran, meningkatnya konflik, hingga melemahnya solidaritas—sebagai tanda pentingnya kebangkitan kesadaran ruhani.
“Wisata religi di Bukit Lebah menjadi salah satu cara membangun kesadaran kolektif. Kita berkumpul, berdzikir, berdiskusi, dan saling menguatkan,” katanya.
Kegiatan yang digelar GAZA di lokasi tersebut biasanya diisi dengan kajian akhir zaman, doa bersama, refleksi diri, serta ajakan untuk memperbanyak amal saleh. Bagi Diki, pendekatan ini lebih efektif karena menyentuh hati, bukan sekadar wacana.
Salah satu fokus utama GAZA adalah melibatkan generasi muda. Diki melihat bahwa anak-anak muda membutuhkan ruang spiritual yang relevan dan inspiratif.
“Anak muda jangan hanya dikenalkan pada wisata hiburan. Mereka juga perlu diajak ke tempat yang menumbuhkan kesadaran spiritual, agar tidak kehilangan arah di tengah derasnya arus digitalisasi,” ujarnya.
Menurutnya, Bukit Lebah bisa menjadi simbol gerakan kebangkitan ruhani yang damai dan inklusif. Alam menjadi guru yang mengajarkan ketenangan, kesederhanaan, dan kebesaran Sang Pencipta.
Spirit Persiapan, Bukan Ketakutan
Diki Candra menekankan bahwa mengingat akhir zaman bukan berarti hidup dalam ketakutan. Justru sebaliknya, hal itu menjadi motivasi untuk hidup lebih bermakna.
“Akhir zaman adalah pengingat bahwa waktu kita terbatas. Maka, gunakan waktu untuk kebaikan, untuk menebar manfaat, dan memperbaiki diri,” tegasnya.
Melalui wisata religi di Bukit Lebah, GAZA berharap lahir generasi yang tidak hanya kuat secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual. Sebab, menurut Diki, keseimbangan antara ilmu, iman, dan amal adalah kunci menghadapi berbagai tantangan zaman.
Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, pesan dari perbukitan sunyi di Subang itu terasa sederhana namun mendalam: kembali pada nilai-nilai keimanan, memperbaiki diri, dan mempersiapkan bekal terbaik untuk kehidupan yang kekal.(Gr)


