
Ciputat,Tangsel, Tenarnews tv9,-Ihwal Guru Besar (Profesor) turun dan keluar dari Menara Gading, ramai-ramai turun gunung memberikan dukungan moral kepada Mahfud MD yang lagi berjuang menyingkap tabir kepalsuan dan kegelapan , bersih-bersih seputar Uang Rp.349T sebagai TPPU di Kemenkeu
Tindak Pidana Pencucian Uang ( TPPU ) adalah kejahatan luar biasa, pantas disebut biadab
Indonesia jadi tempat pangkalan Cuci yang kotor-kotor termasuklah pencucian uang, karena lemahnya di sektor pengawasan serta penegakkan hukum dan politik yang tersandra oleh oligarki dan mafia, membuat otak jadi kotor dan mental yg rusak
Indonesiaku yang malang dulu ratusan tahun dijajah bangsa luar, sekarang lebih gila lagi dijajah oleh bangsa sendiri, pembusukan dari dalam, hancur negeriku
Maka turun dan bantulah wahai para Profesor , bahtera negeri ini, Ibu Pertiwi ini sedang berdukacita, lara, dilanda kegalauan, yang berkepanjangan serta dihantam badai, dihempas ganasnya gelombang laut di saat hendak berbenah untuk melaju di samudera pembangunan
-000-

Para Profesor ini merasa terpanggil melihat kebobrokan yang kian mencekam , merajalela di negeri ini, ledakan emosi itu tersalurkan melalui Gebrakan Mahfud MD yang kebetulan Profesor juga, Mahfud MD terkesan sendirian dan dikroyok pula. yang lain cuek, membisu seribu bahasa. Pada hal kondisi bobrok ini sudah PPATK laporkan sejak tahun 2009 hingga tahun 2023, tidak juga buru-buru direspon dan tidak ditindak lanjuti
Boleh jadi banyak oknum yang sengaja membungkam agar kasus distop bila perlu dipeti es kan. Biarkan
anjing menggonggong, yang penting kafilah tetap berlalu. Kegaduhan ini timbul dari atas,top down ( Pemerintah ) bukan dari bawah ( rakyat )
Memang sudah sepantasnya para Guru Besar ini men-support dalam bentuk dukungan moral dan petisi, Para Profesor harus turun ke gelanggangan tidak pantas jika tetap bergumul dalam kungkungan menara gading yang menjurus ke arah arogansi intlektual hanya berteori melulu dari kampus, kemegahan menara gading , istana mereka untuk mengajar, mendidik para mahasiswa itu lebih berdaya guna jika turun praktik di dunia nyata, agar teori , pendekatan, rumus-rumus yg didiskusikan tentang bernegara dan keadilan menemukan kebenaran sejatinya harus teruji pada tataran praktis
Negeri ini sudah terlalu sering

dari dalam dan dari luar seakan berlomba-lomba untuk menguras uang dan kekayaan negara yg notabenenya milik ummat, punya rakyat maka sudah seharusnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk kesejahteraan dan kemakmuran , sesuai yang diamanatkan oleh konstitusi UUD 45 pasal 33 ayat (3)

-000-
Kalau cuma menjadi pejabat negara untuk mengincer pundi pundi uang dan kekayaan negara tidak perlu titel tinggi-tinggi cukuplah Bang Udin tukang parkir di Senen itu jadi Menteri, Dirjen, Kakanwil dll dijamin mampu dan bersih. Jika cuma bagi-bagi kue yang sudah tersaji di meja tidak perlu Chep handal turun tangan, cukuplah para pelayan rumah makan padang yang ngerjain.
Semua faham bahwa mengurus dan membangun negara itu tidak mudah namun setidaknya jika tak mampu memperbaiki janganlah ikut merusak, jika menata itu rumit tidak seharunya pula kita mengacaukannya, justeru yang terjadi sebaliknya jika bisa dipersulit mengapa dibuat muda
Jika tak sanggup membuat kaya, jangan pula memiskinkan, jika tak pandai menyatukan jangan paksakan untuk memecah belah, kalau tak piawai membangun mengapa menghancur kan . Wahai kaum elit negeri tanamkan dalam hati kita, bahwa Senang melihat Rakyat Senang dan susah menyaksikan rakyat susah, bukan dibalik Senang melihat rakyat susah, dan susah melihat rakyat senang.
Seperti kata Bung Yudi Latif, “Cukuplah para elit negeri , agamawan Ilmuwan, Usahawan bisa duduk manis dengan melakukan apa yang bisa diperbuat sejauh tidak merusak, tidak membuat kacau , memersulit , memiskinkan, melemahk an memecah belah dan menghancurkan maka dengan itu saja, sebagian besar masalah bangsa ini sudah bisa terurai”
Praktek curang bersekongkol, berjemaah maling uang negara jelas dan tegas haram dan melanggar Undang- Undang. Tidak bisa seenak udelnya sendiri main umpet, main tilep, jangan pernah terbersit di hati bahwa mereka (pejabat) yang paling berjasa yang paling ber-hak mengurus yang ujung-ujungnya menguras uang dan kekayaan negara
Seorang Pemimpin atau atasan wajib tahu dan mengerti sepak terjang anak buah, bawahan
Bukan pemimpin jika bisa dikerjain dan dikadalin anak buah
Uang sebanyak itu untuk apa ? adakah agenda terselubung ? hanya Tuhan yang tahu dan pelakunys , di tahun politik yang penuh intrik dan taktik ini luarbiasa hingar bingarnya. Jika saja Tuhan tidak buka kotak pendora persekongkolan gelap dan jahat melalui pintu masuk Rafael Alun ini entahlah apa jadinya
Dalam pandangan Saya yang awam , dimana kekuatan politik (kekuasaan) bergeser total ke menu manis madu “cuan” sebagai arah kiblatnya, karena sudah tidak dianggap lagi kekuatan kharismatis, sudah tak digubris lagi ketulusan , anda bayar saya jual, transaksional-libral, pada hal falsafah dan pandangan hidup bangsa “Pancasila” tapi tetap saja diabaikan
Ada agenda tersembunyi untuk merusak perekonomian negeri, membuat rupiah bisa jadi teler, terpuruk . Para Investor dalam dan luar negeri mikir dua kali melihat para penjahat ekonomi negeri berkeliaran ngetem di sudut-sudut Kantor, Kementerian. Artinya ekonomi kita terkepung dalam ancaman tikus-tikus got dan tuyul-tuyul serakah ini menjadikan ekonomi meriang tidak sehat
Sekali lagi wajar Para Profesor turun gunung dukung bantu Mahfud MD, Dukungan dan petisi komunitas Menara Gading menambah bobot dan kuslitas perjuangan, sungguh negeri ini dalam bahaya, Sesuai keahlian dan des keilmuan para Profesor untuk turut membenahi, merubah dari gelap menjadi terang benderang
Sesuai dengan pesan Rasulullahﷺ dalam sabdanya yang populer:
عن ابي سعيد الخدري قال: سمعت رسول الله ﷺ يقول : من رأئ منكم منكرا فليغر بيده فان لم يستطع فبلسانه فان لم يستطعع فبقلبه وذلك اصعف الايمان ( صحيح – رواه البخاري )
“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, maka rubahlah dengan tanganmu (power) jika tidak bisa dengan lidahnya, jika tidak bisa (tolaklah) dengan hatinya itulah sikap selemah-lemah Iman” (HR. Bukhori )
Jangan sampai kasus Uang Rp.349Triliun di Kemenkeu ini menguap diterlantarkan, dibiarkan dan diabaikan seperti kasus Skandal BLBI dan Centuri, keenakan mereka ngelunjak dan nginjak kepala. Rakyat dan kita semua marah besar, dan tidak bisa terima, kejahatan ekonomi yang dilakukan para kriminal berdasi.
Kapan lagi kaum cerdik pandai mengorbankan pikiran dan tenaga untuk kemaslahatan dan kepentingan bangsa, Ibu Pertiwi memanggil maka tak elok jika ditampik dan tak direspon.
Selanjutnya ayo siapa lagi dan darimana lagi yang siap bantu negeri yang lagi semaput, yang pasti dari dalam negeri mustahil orang luar negeri yg peduli . Justeru mereka bertepuk girang menyaksikan Bahtera Indonesia , bocor dan akan tenggelam di samudra lepas
Itu tidak mungkin terjadi selama kita kompak mau berkerjsama dan tetap peduli. Bukankah “Padamu Negeri Kita Berjanji , Padamu Negeri kita Berbakti”( MS TJIK NG )

