Investasi di Balik Sepiring Makanan: Mengapa Santri Juga Membutuhkan Program Makan Bergizi

- Jurnalis

Senin, 15 Juni 2026 - 22:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Sukarya Putra/Ketua Umum Santri Muda Nusantara (SAMUDRA)

Selama ini, jika kita bicara tentang pesantren, ingatan kolektif masyarakat hampir selalu tertuju pada gambaran yang itu-itu saja: deretan kitab kuning yang berdebu, lantunan ayat suci yang menggema di waktu subuh, atau sosok santri yang bersahaja dengan sarung dan kopiahnya. Pesantren dianggap sebagai benteng moral dan pusat pendalaman agama. Namun, ada satu dimensi krusial yang sering luput dari perhatian kita semua: realitas fisik dan biologis santri di balik dedikasi mereka menuntut ilmu.

Kami, dari Santri Muda Nusantara (SAMUDRA), melihat bahwa perbincangan mengenai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan ini ramai, tidak bisa hanya dilihat dari kacamata bantuan sosial biasa. Bagi kami, ini adalah titik balik untuk menyadari bahwa kualitas ibadah, ketajaman kecerdasan, hingga daya tahan seorang santri untuk begadang mengkaji tafsir atau fiqih, sangat bergantung pada apa yang masuk ke dalam tubuh mereka.

*Gizi adalah Bahan Bakar Kecerdasan*

Ada mitos yang cukup awet di masyarakat kita: bahwa menuntut ilmu agama itu cukup dengan kesabaran dan keikhlasan, sementara urusan perut adalah nomor sekian. Padahal, secara ilmiah, otak yang cerdas dan tubuh yang kuat memerlukan asupan nutrisi yang memadai. Bagaimana mungkin kita mengharapkan lahirnya cendekiawan Muslim yang mampu menjawab tantangan zaman, atau pemimpin masa depan yang berintegritas, jika fondasi fisiknya tidak kokoh?

 

Santri bukan robot. Mereka adalah manusia yang sedang dalam masa pertumbuhan dan pengembangan intelektual yang sangat intens. Ketika kebutuhan gizi terpenuhi, fokus dalam belajar akan meningkat, daya tahan tubuh terhadap penyakit lebih baik, dan semangat untuk berkontribusi bagi bangsa pun akan terjaga. Sepiring makanan bergizi bukan sekadar “jatah makan,” melainkan investasi nyata dari negara untuk membangun peradaban yang sehat. Jika kita ingin pesantren melahirkan kader bangsa yang tangguh, maka negara harus berani memastikan bahwa tidak ada satu pun santri yang menuntut ilmu dalam kondisi lapar atau kurang gizi.

Baca Juga :  HPN 2026 di Banten, Pemerintah Perkuat Peran Pers dan Literasi Digital Generasi Muda

*Kehadiran Negara yang Konkret*

Selama ini, diskursus pendidikan keagamaan seringkali terasa terpisah dari kebijakan strategis pemerintah yang bersifat praktis. Program MBG di pesantren dapat menjadi bukti konkret hadirnya negara di tengah denyut nadi kehidupan santri. Ini adalah bentuk perhatian yang menyentuh ranah paling dasar: kesejahteraan fisik.

Lebih jauh lagi, program ini memiliki efek domino yang luar biasa bagi ekonomi lokal di sekitar pesantren. Bayangkan jika setiap pesantren yang menjalankan MBG diwajibkan menyerap bahan baku—seperti sayur-mayur, telur, ayam, atau hasil laut—dari petani, peternak, dan nelayan di desa sekitar pesantren tersebut. Program ini tidak hanya memberi makan santri, tetapi juga menghidupkan pasar tradisional, menggerakkan UMKM desa, dan memastikan perputaran uang tetap berada di lingkungan akar rumput. Ini adalah strategi ekonomi kerakyatan yang sangat organik dan berdampak luas.

*Mengawal dengan Kritis dan Bijak*

Tentu saja, mendukung program MBG bukan berarti kami menutup mata atau bersikap naif. Kami sadar sepenuhnya bahwa menjalankan program sebesar ini di ribuan pesantren yang tersebar dari pelosok hingga perkotaan bukanlah perkara mudah. Akan ada tantangan logistik, ancaman kebocoran anggaran, hingga risiko kualitas makanan yang tidak standar.

Sebagai pihak yang mendukung, sikap kami justru adalah sikap kritis. Dukungan kami adalah dukungan yang disertai pengawalan. Masyarakat, pengurus pesantren, dan kami para santri harus ikut serta menjadi pengawas. Program ini tidak boleh hanya menjadi proyek administratif yang sekadar “selesai di atas kertas.” Kita perlu memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar menjelma menjadi nutrisi di piring santri. Transparansi adalah harga mati. Jika ada kekurangan dalam distribusi atau kualitas, kita harus berani bersuara untuk perbaikan, bukan untuk mematikan programnya.

Baca Juga :  Buka bersama Partai NasDem , Tokoh Parpol Bahas Silaturahmi Kebangsaan

Kritik yang membangun justru diperlukan agar program ini tetap berada di relnya dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Kami tidak ingin program ini hanya bertahan satu atau dua tahun, lalu hilang ditelan pergantian kebijakan. Ia harus menjadi sistem yang mapan, yang pada akhirnya membudayakan hidup sehat di lingkungan pesantren.

*Refleksi: Menuju Masa Depan yang Paripurna*

Sebagai penutup, mari kita renungkan kembali esensi dari pendidikan. Membangun sebuah bangsa tidak cukup hanya dengan menyediakan ruang kelas yang megah atau kurikulum yang canggih. Ia memerlukan manusia-manusia yang sehat jiwanya dan kuat fisiknya.

Pesantren adalah kawah candradimuka bagi calon pemimpin bangsa. Kita sudah lama memberikan perhatian besar pada kurikulum kitabnya, pada pengabdian gurunya, dan pada lingkungannya. Kini, sudah saatnya kita memberikan perhatian yang sama seriusnya pada apa yang dikonsumsi oleh para santri setiap harinya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai proses belajarnya. Dan proses belajar yang paling fundamental adalah memastikan bahwa setiap santri memiliki energi yang cukup untuk menyerap ilmu, memahaminya, dan kelak mengamalkannya bagi kepentingan bangsa dan agama. Jangan biarkan masa depan bangsa ini layu hanya karena kita abai pada sepiring makanan di meja makan santri.

Mari kita dukung program ini dengan pikiran yang terbuka, namun tetap dengan mata yang awas. Sebab pada akhirnya, apa yang kita investasikan pada santri hari ini, akan dituai oleh bangsa ini di masa depan. Santri yang sehat adalah modal utama bagi Indonesia yang lebih kuat dan beradab.



 

Berita Terkait

HUT RI ke 81,” Warga RT 8 RW 7 sambut Dirga Hayu Republik Indonesia
Maulid Nabi Muhammad SAW,” MT.BALWAN Kota Depok sambut hari besar Islam
Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau
SMSI Muratara kirim empat anggota untuk jadi Pengurus SMSI Kota Lubuklinggau
MUSALLA AL IKHAS GELAR PERINGATAN MAULUD NABI BESAR MUHAMMAD SAW,1448 H /2026 TELADANI AKHLAK RASULULLAH
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Bela Penimbun Pertalite Di Bogor Dan Tuding Miring Profesi Jurnalis
KABAR GEMBIRA BAND BARU BOSS FIVE AKAN SEGERA DIRILIS DI AKHIR TAHUN 2026
SIMPOSIUM NASIONAL 60 TAHUN KAHMI UNTUK KEDAULATAN BANGSA
Berita ini 47 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 10:32 WIB

HUT RI ke 81,” Warga RT 8 RW 7 sambut Dirga Hayu Republik Indonesia

Jumat, 25 September 2026 - 17:28 WIB

Maulid Nabi Muhammad SAW,” MT.BALWAN Kota Depok sambut hari besar Islam

Senin, 14 September 2026 - 15:19 WIB

Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 September 2026 - 15:04 WIB

SMSI Muratara kirim empat anggota untuk jadi Pengurus SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 September 2026 - 09:30 WIB

MUSALLA AL IKHAS GELAR PERINGATAN MAULUD NABI BESAR MUHAMMAD SAW,1448 H /2026 TELADANI AKHLAK RASULULLAH

Berita Terbaru

Tenar News

Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 Sep 2026 - 15:19 WIB