MENGUKUR LEVEL SYUKUR

Jika ingin bersyukur atas nikmat Allah, inilah saatnya di bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan maghfirah
Dan bersyukur adalah salah satu bukti ketaatan seorang hamba kepada Sang Kholiqnya. Bersyukur juga wujud terima kasih atas kesadaran di dalam hati, lalu terucapkan dalam lisan dan terekspresikan dalam sikap dan perbuatan
Dan jika kita selalu bersyukur, peluang keluhan diri akan menjadi sempit. Tidak hanya di situ, kenikmatan lain akan bertambah-tambah (14:7). Dan sebaliknya jika kita selalu mengeluh, rasa syukur dalam diri akan kian menjauh.
Sekarang seandainya, anda dapat rejeki sebesar Rp. 3.250.000. Lalu Rp. 250.000 tiba-tiba hilang dari saku anda. Bagaimana pikiran dan perasaan anda?
Jika anda fokus pada yang hilang Rp. 250.000, maka bisa dipastikan anda akan sulit tidur dan mungkin juga sulit makan. Bahkan boleh jadi marah bercampur rasa kecewa yang mendalam.
Dan jika anda fokus dengan uang yang masih ada, Rp. 3.000.000. Lalu anda mengucapkan alhamdulillah, maka boleh jadi anda terhibur dan karenanya tetap bisa tenang. Dan dapat dipastikan pula anda tidak akan tersulut emosi dan kecewa yang mendalam
Dari dua fenomena di atas, kita dapat mengukur pada level mana rasa syukur kita, yang atas atau yang bawah ? Fenomena atas adalah gambaran diri yang lemah syukur dan fenomena bawah adalah gambaran diri ahli syukur.
Semoga kita terus bisa meningkatkan level syukur kita dalam semua hal kehidupan kita, khususnya di bulan agung ini. Ingat kata kuncinya: “Jangan biarkan diri mengeluh terhadap hal yang kecil, sementara banyak hal yang besar yang harus kita syukuri dalam hidup ini”
Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji. (31:12) ….
