YANG NAMPAK DARI PANGGUNG SANDIWARA SIDANG MK

- Jurnalis

Minggu, 7 April 2024 - 22:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Prof. Henry Subiakto
(Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga)

Melihat Sidang MK dalam dua minggu ini, ada tanda-tanda seakan para hakim MK lebih terbuka pada semua opsi putusan, baik menolak maupun menerima gugatan. Walau mungkin akan berpikir jika sampai harus menerima gugatan. Betapa beratnya untuk mengembalikan keadaan & kejiwaan ke titik sebelum pemilu.

Kita tahu pemerintah dan 02 sengaja jalan terus seakan tidak mungkin ada diskualifikasi sebagaimana gugatan pemohon. Prabowo malah sudah ke Cina & diterima seolah presiden.

Disini MK dalam posisi yang berat & sulit. Di satu sisi mereka pasti ingin mengembalikan marwah MK yang hancur karena putusan no 90 tahun 2023 (yang meloloskan Gibran -red). Di sisi lain jika MK berani mutus diskualifikasi Prabowo Gibran, bisa muncul chaos & krisis. Padahal kalau Chaos yang pegang kendali presiden Jokowi. Dengan backup Panglima TNI, Kapolri, KASAD, KASAU dan KASAL yang semua merupakan All The Presiden’s men (orangnya Presiden).

Maka yang paling mungkin didorong & diframing beresiko kecil dengan keributan sebentar adalah MK menolak gugatan. Kalau kemudian terjadi unjuk rasa, TNI-Polri pasti sudah siap antisipasi & hadapi pengunjuk rasa.

Sekarang MK sampai manggil 4 Menteri, tapi yang boleh bertanya hanya hakim MK, tanpa membuka pertanyaan dari pemohon (kubu 01 dan 03), sehingga perspektif pembahasan jadi datar & kurang tajam. Makanya pemanggilan menteri-menteri ke MK, dibiarkan oleh Presiden, karena tahu para menteri tentu bisa jawab pertanyaan hakim dg jawaban-jawaban teknis & normatif.
Namun makna kehadiran menteri-menteri di MK sudah cukup menunjukkan, upaya hukum telah dilakukan serius. Itulah konsep “seeing is believing”, apa yg nampak di mata rakyat akan dipercaya sebagai upaya yg benar, walau aslinya materi yg diperoleh dari tanya jawab dg para menteri itu tak terlalu banyak guna terkait isu perusakan demokrasi.

Baca Juga :  Biayanya Rp7 Triliun! Terowongan Terpanjang di NTB Ini Dibangun Hanya 6 Bulan, Bangunan Tercepat se-Indonesia " Ada di Mandalika

Konsep “Seeing is believing” sendiri sering dipakai dalam konteks political public relations. Termasuk strategi komunikasi agar rakyat bisa melihat keseriusan Jokowi membangun negeri, begitu pula kerja MK sekarang, harus terlihat serius, agar kekecewaan rakyat tidak menjadi jadi. Panggung yg menarik di MK itu bisa sebagai sarana katarsis terhadap berbagai kekecewaan.

Daulu di Sidoarjo Jawa Timur, ketika lumpur Lapindo meluap dan membuat warga ngeri & marah, karena wilayahnya terancam, maka yg dilakukan adalah memasukkan bola bola beton ke dalam mud vulcano atau pusatnya lumpur panas. Secara teknis upaya memasukkan bola2 beton itu tidak ada manfaat, karena masuk ke perut bumi, tapi aktivitas itu dikerjakan sebagai upaya komunikasi, agar rakyat melihat ada upaya serius yg dikerjakan. Itu yg namanya “Seing is Believing”, dg melihat itu rakyat tenang, percaya, negara sudah bekerja.

Dalam konteks sengketa hasil Pemilu, kalau nanti diputus MK, mereka juga akan mengakui bahwa MK telah bekerja maksimal, sebagaimana yg terlihat sampai hadirkan 4 menteri jadi saksi. Jika masih ada yg protes, dg gerakan perlawanan demokrasi, mereka akan dianggap sebagai kelompok berisik yg tidak legowo. Kelompok yg tidak nerima kenyataan hingga bisa mengganggu persatuan & agenda nasional. Bahkan dituding akan menghambat upaya mewujudkan Indonesia emas. Itulah cara meredam gejolak politik dg mempengaruhi persepsi rakyat. Political reality is about perception.

Baca Juga :  Simak Alasan Kuat RM Margono Djojohadikoesoemo Raih Gelar Pahlawan Nasional

Setelah panggung MK nanti selesai, kemungkinan selesai pula ruang legal untuk menyelamatkan demokrasi di negeri ini. Kenyataan yang harus diterima, faktanya *sebagian besar elite politik negeri ini memang sudah bobrok. Dan Jokowi berhasil menghimpun dan mengelola kebobrokan itu menjadi kekuatan politiknya. Penegakan hukum yg ditakuti para elite yg bobrok. Jadi alat politik yg efektif bagi Jokowi. Membuat orang2 bobrok tak berdaya kecuali ikut Jokowi. Walhasil, *law is a tool of political engineering (hukum menjadi alat politik -red).* Sedang Kekuatan rakyat, kekuatan demokrasi makin “tidak berdaya”. Sudah begitu masih dianggap sebagai pihak yg mengganggu kepentingan nasional.

Sementara dengan berjalannya waktu, sebagian besar orang akan sibuk mikir nasibnya sendiri daripada persoalan ngurus rusaknya Demokrasi. Case closed. Semua hanya jadi catatan sejarah buruk tentang demokrasi di negeri ini.( Red )

Berita Terkait

HUT RI ke 81,” Warga RT 8 RW 7 sambut Dirga Hayu Republik Indonesia
Maulid Nabi Muhammad SAW,” MT.BALWAN Kota Depok sambut hari besar Islam
Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau
SMSI Muratara kirim empat anggota untuk jadi Pengurus SMSI Kota Lubuklinggau
MUSALLA AL IKHAS GELAR PERINGATAN MAULUD NABI BESAR MUHAMMAD SAW,1448 H /2026 TELADANI AKHLAK RASULULLAH
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi Bela Penimbun Pertalite Di Bogor Dan Tuding Miring Profesi Jurnalis
KABAR GEMBIRA BAND BARU BOSS FIVE AKAN SEGERA DIRILIS DI AKHIR TAHUN 2026
SIMPOSIUM NASIONAL 60 TAHUN KAHMI UNTUK KEDAULATAN BANGSA
Berita ini 89 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 10:32 WIB

HUT RI ke 81,” Warga RT 8 RW 7 sambut Dirga Hayu Republik Indonesia

Jumat, 25 September 2026 - 17:28 WIB

Maulid Nabi Muhammad SAW,” MT.BALWAN Kota Depok sambut hari besar Islam

Senin, 14 September 2026 - 15:19 WIB

Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 September 2026 - 15:04 WIB

SMSI Muratara kirim empat anggota untuk jadi Pengurus SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 September 2026 - 09:30 WIB

MUSALLA AL IKHAS GELAR PERINGATAN MAULUD NABI BESAR MUHAMMAD SAW,1448 H /2026 TELADANI AKHLAK RASULULLAH

Berita Terbaru

Tenar News

Anggota SMSI Muratara Pimpinan Ketua SMSI Kota Lubuklinggau

Senin, 14 Sep 2026 - 15:19 WIB