Uang pecahan lima puluh ribu rupiah Seratus ribu bergambar Presiden Soeharto di bursa kolektor.
Soeharto seperti tokoh dalam wayang. Kadang muncul dari balik kelir, kadang hilang di gulungan kain, lalu mendadak berdiri di tengah panggung ketika semua mata sedang melihat ke arah lain. Sejak 1945 sampai 1998, ia bukan sekadar saksi. Ia penggerak. Dan seperti banyak penggerak sejarah, ia meninggalkan jejak yang tidak bisa dibaca dengan satu warna saja.
Prajurit Desa yang Masuk Pusaran Revolusi
Banyak orang lupa bahwa sebelum menjadi presiden, Soeharto adalah tentara yang hampir selalu berada di jalur panas sejarah. Tahun 1945 ia ikut membentuk badan keamanan rakyat di Yogyakarta. Lalu bergerak sebagai Komandan Wehrkreise III, lalu Komandan Resimen. Ia memimpin penyerangan–penyerangan yang kelak diceritakan hampir seperti dongeng. Serangan Umum 1 Maret adalah salah satunya. Efeknya politik, bukan militer, tetapi di situlah Soeharto belajar bahwa kemenangan kadang bukan di meriamnya, tetapi di sorotan mata dunia-bahwa Indonesia masih ada.
Pada dekade 1950an, saat Indonesia masih retak di mana-mana, Soeharto masuk dalam operasi yang tidak pernah berhenti: DI/TII di Jawa, RMS di Maluku, lalu PRRI/Permesta. Di masa itu ia bukan jenderal besar. Ia “tukang padam api” Republik. Dari operasi ke operasi, dari front ke front. Orang mungkin tidak mencatatnya satu per satu, tetapi para prajurit tua tahu posisi Soeharto bukan sekadar lewat parade.
Panglima Mandala: Operasi yang Membuatnya Melompat
Jabatannya paling menentukan sebelum 1965 adalah ini: Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat. Penunjukan itu seperti angin besar yang mendorong perahunya ke tengah samudera. Tugasnya sederhana dalam kalimat, sangat sulit dalam kenyataan: rebut Irian Barat, dengan atau tanpa perang.
Soeharto membangun infrastruktur komando baru, jalur logistik baru, taktik infiltrasi baru. Amerika mulai takut Indonesia memeluk Soviet terlalu erat. Belanda mulai ragu. Diplomasi bekerja. Operasi militer bekerja sebagai tekanan. Akhirnya 1962, Irian Barat masuk ke meja penyelesaian. Soeharto pulang sebagai jenderal muda yang namanya tiba-tiba naik dari halaman belakang ke halaman depan.
Orang yang awalnya hanya “prajurit desa dari Kemusuk” itu kini menjadi komandan operasi besar yang membuat negara kolonial mundur dari sebuah benua kecil di Pasifik.
Saat Dwikora dimulai, Soeharto sudah menjadi Panglima Kostrad. Ia menyaksikan bagaimana Indonesia mencoba menekan Malaysia yang dianggap proyek neo-kolonial. Misi Soeharto lebih administratif dari ideologis, tetapi ia ada di titik persimpangan. Di masa itu militernya makin besar, ekonominya makin jatuh, dan PKI makin tinggi. Negara seperti wayang yang talinya ditarik terlalu keras dari berbagai arah.
Ketika 30 September meledak, Soeharto lagi-lagi berada di posisi yang aneh. Tidak di atas, tidak di bawah, tetapi tepat di tengah titik tekanan. Kostrad menjadi pusat kontrol. Dan sejarah memilih arahnya sendiri.
Setelah ia mendapatkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), roda mulai berputar sangat cepat. Ekonomi hiperinflasi. Politik memanas. Soeharto merapikan struktur negara seperti orang desa merapikan sawah menjelang musim tanam.
Ia tidak memakai bahasa tinggi. Ia memakai bahasa kerja. Tidak memakai ideologi rumit. Ia memakai jargon pembangunan. Dalam 2 tahun kurs stabil. Dalam 5 tahun investasi masuk. Dalam 15 tahun Indonesia terlihat seperti negara yang sedang tumbuh dengan percaya diri.
Indonesia Membangun: Ipoleksosbud yang Tidak Pernah Diam
Sekitar seperempat abad ia berkuasa, program-program besar muncul seperti tanaman di musim hujan.
Ideologi dan Politik
Pancasila ditegakkan sebagai ideologi pemersatu. Kadang terlalu ketat. Kadang seperti pagar yang terlalu tinggi. Tetapi negara stabil.
Pemilu rutin, walau tidak kompetitif.
KNPI tumbuh sebagai kawah pemuda. Karang Taruna diberdayakan. Anak-anak kampung tiba-tiba punya ruang kegiatan.
Ekonomi
Swasembada beras 1984. Jarang negara tropis berhasil seperti itu. Soeharto memakai pupuk, irigasi teknis, cetak sawah, program Bimas dan Inmas, dan satu kebiasaan lama: turun ke sawah berbicara langsung dengan petani lewat Kelompencapir, teleconference gaya analog yang disiarkan TVRI.
Hutang luar negeri naik, tapi pertumbuhan ekonomi juga naik. Jalan negara seperti jalan panjang yang halus tapi berbiaya mahal.Sosial
PKK menjadi tulang punggung pergerakan ibu rumah tangga. Dari posyandu sampai penyuluhan dapur bersih.
Program transmigrasi memindahkan jutaan orang ke luar Jawa. Ada yang berhasil menjadi petani mapan. Meski ada juga beberapa yang gagal.
Perlindungan eks PKI dilakukan dalam bentuk pengasingan dan transmigrasi agar tidak menjadi korban amuk massa. Ini bagian gelap sekaligus bagian rumit dari masa itu. Budaya
Titian Muhibah TVRI membuat kesenian daerah melintas kota ke kota dan negara lain. Diplomasi budaya dilakukan lewat tarian, gamelan, dan penyanyi muda yang dibawa keliling Asia.
Pertahanan dan Keamanan
Industri alutsista mulai tumbuh. Pindad memproduksi senapan sampai kendaraan lapis baja. PT PAL bangun kapal. IPTN melompat ke pesawat turboprop dan helikopter.
Indonesia mengirim pasukan perdamaian ke luar negeri. Membantu negara kena bencana. Mengirim beras ke negara Afrika yang kekeringan. Bahkan menyalurkan obat ke daerah perang panjang seperti Afganistan.
Pendidikan
Ratusan ribu Sekolah Dasar Inpres dibangun. Desa-desa yang tidak punya papan tulis kini punya bangunan 6 ruang kelas.
Yayasan Supersemar membiayai ribuan mahasiswa miskin yang kemudian menjadi dokter, guru, insinyur, teknokrat. Banyak yang tidak suka Soeharto, tetapi tetap mengakui beasiswa itu mengubah jalan hidup mereka.
Teknologi
Indonesia masuk era satelit dengan Palapa. Suara yang dulu harus naik ke gunung kini bisa lewat parabola kecil di kantor desa.
Kelompencapir dan teleconference desa adalah eksperimen komunikasi publik yang aneh pada masanya. Tetapi desa-desa merasa “diperhatikan langsung dari Jakarta”.
Jalan Panjang yang Penuh Cahaya dan Bayangan
Pada akhirnya, Soeharto memakai gaya kepemimpinan yang seperti air sungai besar. Mengalir pelan tetapi pasti. Menguasai semua jalur. Tidak terburu-buru. Kadang deras. Kadang malah terlalu tenang sampai rawa-rawa mulai muncul.
Korupsi, oligarki, dan ekonomi yang mulai timpang memperlambat laju kapal. Krisis Asia 1997 seperti badai yang tiba-tiba datang dari balik tanjung. Ketika ombak menghantam, fondasi yang selama ini tersembunyi tampak rapuh. Ia akhirnya mundur pada 1998, di tengah suara keras mahasiswa dan angin perubahan yang tidak bisa ia hentikan lagi.
Penutup: Jejak yang Tidak Bisa Dihapus, Tidak Bisa Disederhanakan
Soeharto wafat 2008. Tetapi debat tentang dirinya tidak pernah mati. Ia meninggalkan jalan yang panjang, dengan lampu-lampu terang di satu sisi dan bayangan gelap di sisi lain. Seperti sawah yang luas, orang bisa melihat kehijauan panennya atau lumpur di pematangnya, tergantung dari sudut berdiri.
Yang jelas, ia bukan tokoh kecil. Ia bukan halaman kaki. Ia adalah bab panjang dalam sejarah Indonesia. Bab yang membuat banyak orang kagum, banyak orang marah, dan banyak orang tidak bisa berhenti membicarakannya.
Dan sejarah, seperti biasa, memilih cara sendiri untuk mencatat nya.. .( R GH )


