Menu

Mode Gelap
Pemkab Serang Diduga Serobot Lahan Eks Pasar Kragilan Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1445 H,Warga Himalo Diaspora Gelar Doa Bersama Peradi Nusantara Berkomitmen untuk Menjadi Advokat Spesialis dengan Dukungan Ombudsman RI Konsolidasi dan Silaturahmi antara DPN dan DPD Peradi Nusantara Provinsi Jawa Barat Taufik Bagus Murdianto Calek NasDem Dapil III DKI Jakarta Konsen Terhadap Kesehatan

Pendidikan · 22 Okt 2022 16:45 WIB ·

Sejarah Suku Betawi


 Sejarah Suku Betawi Perbesar

TenarNews-Sensus tahun 1815, akan terlihat bahwa kelompok pribumi itu adalah orang-orang yang berasal dari : (1) Bali, (2) Sulawesi Selatan, (3) Jawa (termasuk Sunda), serta (4) Melayu. Jika mau ditelusuri lagi, kelompok Sulawesi Selatan ini sebagian besar berasal dari Bugis-Makassar, sedikit bahkan mungkin tak ada yang dari Mandar apalagi Toraja.

Sedangkan kelompok Melayu berasal dari etnis Minangkabau, orang Malaka, dan mungkin sedikit dari Palembang. Sebagian besar orang Melayu ini berprofesi sebagai pedagang dan syahbandar. Mereka inilah kemudian yang memperkenalkan Bahasa Melayu Pasar — yang kemudian menjadi cikal bakal Bahasa Betawi — di Sunda Kelapa/Batavia.

Melihat penjelasan di atas, jika dilihat secara komposisi etnis, nenek moyang orang Betawi terbesar berasal dari Bali dan Bugis-Makassar, diikuti oleh keturunan Jawa serta Melayu. Lalu orang-orang Asia lainnya (China, Arab, India, Filipina), serta Eropa, juga turut membentuk apa yang kita kenal sekarang sebagai orang Betawi.

Pernikahan diantara penduduk Batavia, ternyata tak hanya terjadi diantara etnis-etnis Nusantara saja, namun juga dengan orang-orang China, Arab, dan Eropa.

Kampung-kampung etnis inipun masih jelas jejaknya hingga saat ini. Ada Kampung Tugu (tempat keturunan Portugis), Depok (tempat keturunan Belanda), Koja, Pekojan (kampung Arab), Bidara Cina, Pondok Cina, serta pecinan di kawasan Glodok (tempat keturunan Tionghoa).

Yang signifikan namun terabaikan adalah kelompok budak. Mereka merupakan para tawanan Belanda yang kalah perang. Sebagai tawanan, banyak diantara mereka yang kemudian dijual dan dikirim ke Batavia. Kelompok ini sebagian besar datang dari Makassar, Bali, Banda (Maluku), Manggarai (Flores), Bima, dan ada pula yang dari pantai Koromandel (timur India).

Konon Kampung Bandan di dekat Mangga Dua, dulunya merupakan tempat penampungan para budak dari Pulau Banda.


Setelah perbudakan dilarang di Batavia tahun 1860, para budak ini kemudian dibebaskan dan mengaku sebagai orang Betawi. Selain budak, orang-orang Belanda juga banyak membawa serdadu ke kota ini. Mereka sebagian besar berasal dari Ambon dan Pampanga (Filipina). Saat ini keturunan mereka banyak yang bermukim di Kampung Ambon, Cengkareng dan Papanggo, Tanjung Priok.

Yang menarik, kalau kita menengok tokoh-tokoh serta ikon Betawi yang terkenal, justru banyak yang berdarah campuran. Mungkin Anda gak tau kalau Haji Bolot itu campuran Betawi-Ortega (orang Tegal asli), Komeng (campuran Betawi-Sunda), atau Nazar Amir yang keturunan Arab.

Di keluarga Si Doel — yang menjadi ikon budaye Betawi, juga ada Benyamin Sueb (ayahnya Jawa, ibunya Betawi), Aminah Cendrakasih (Jawa-Betawi, turunan Tionghoa), serta Rano dan Suti Karno (ayah Minang-ibu Betawi/Jawa).

Bahkan M.H. Thamrin yang dikenal sebagai pahlawan Betawi-pun, ternyata juga ada keturunan Inggris. Kakeknya yang bernama George Anton Ort, merupakan seorang pengusaha yang punya hotel di Petojo.

(red)

Artikel ini telah dibaca 291 kali

Baca Lainnya

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas PTIQ Jakarta Melakukan Kunjungan ke Unit Penyandang Disabilitas (UPD).

27 November 2023 - 04:17 WIB

Himpunan Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam (Himakopi) & Dema Fakultas Ushuluddin dan Dakwah (Dema FUD) mengadakan Focus Group Discussion

23 Oktober 2023 - 15:46 WIB

Peringati hari lahir, HIPMAT Gelar khataman Al-qur’an dan doa bersama.

23 Oktober 2023 - 14:49 WIB

Kembangkan soft skill, Ikatan Mahasiswa Sasak (IMSAK) Jakarta gelar sekolah kepenulisan.

17 Oktober 2023 - 23:57 WIB

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas PTIQ Jakarta Melakukan Kunjungan ke Radio Republik Indonesia (RRI)

11 Oktober 2023 - 15:49 WIB

Lanjutkan roda kepemimpinan, HIMAS Universitas PTIQ Jakarta gelar pemilihan umum.

3 Oktober 2023 - 02:59 WIB

Trending di Pendidikan